Citizen Reporter

Memahami Sejarah dari Uang Lawas

Hobi mengoleksi uang lawas bisa menjadi bisnis menarik. Uang kuno tidak hanya cantik, tetapi juga menyimpan kisah sejarah.

Memahami Sejarah dari Uang Lawas
ist

Hobi bukan hanya membuat orang bersemangat dan bergembira. Jika bisa mengelola, hobi bisa memberi manfaat lebih. Salah satunya mereka yang hobi mengoleksi mata uang, termasuk koin, token, uang kertas, dan benda-benda terkait lainnya yang disebut numismatik.

Salah satu orang yang menjadikan hobi sebagai lahan bisnis produktif adalah Lily. Ia pemilik toko kecil bernama Epiphany di Jalan Soekarno Hatta km 3,5 Balikpapan. Toko itu menjual berbagai suvenir pernikahan, kerajinan mahar, dan uang kuno dari berbagai penjuru dunia, baik yang logam mau pun kertas.

Menurut Cik Lily, demikian orang memanggilnya, toko itu adalah peninggalan suaminya, Djohan. Kecintaan Djohan kepada uang kuno terutama uang Indonesia membuat Cik Lily bertekad meneruskan bisnis yang telah dirintis suaminya sejak muda.

Di toko itu orang bisa mencari atau sekadar melihat-lihat mata uang Republik Indonesia dari sen, hingga ringgit, kemudian menjadi mata uang rupiah. Pemilik toko tidak akan keberatan menerangkan sejarah uang itu.

"Rp 2,5 rupiah ini ada karena pada zaman dulu masyarakat kita menggunakan ringgit. Dua setengah rupiah sama dengan satu ringgit," jelasnya beberapa waktu lalu.

Mata uang mulai dari nominal terkecil, yaitu 1 sen, 10 sen, 1 rupiah, 2,5 rupiah, 5 rupiah dan seterusnya ada tersedia. Bahkan mata uang dengan denominasi 100 triliun dari Zimbabwe pun ada.

Sayangnya, uang itu tak berarti apa-apa di negerinya. Baru setelah dihentikan sebagai alat tukar, dolar Zimbabwe malah naik daun jadi incaran para kolektor di seluruh dunia.

Menurut Rama, salah satu pengunjung toko yang sudah lama berlangganan sejak Djohan masih hidup, mata uang kuno paling indah di dunia ini adalah rupiah.

Ilustrasi dalam uang kertas maupun koin, benar-benar mewakili keindahan dan keberagaman Indonesia. Mulai dari seri pekerja, seri pahlawan, seri sandang pangan, flora dan fauna serta berbagai kebudayaan daerah menghiasi lembar demi lembar rupiah dengan emisi berbeda.

"Kalau saya paling suka uang RI nominal Rp 20 ribu bergambar cendrawasih. Sayang, harganya mahal sekali," ucapnya sambil tertawa.
Rata-rata orang berkunjung ke toko itu untuk memesan mahar pernikahan dengan angka cantik. Masih jarang orang yang tertarik untuk menjadi bagian dari numismatik Indonesia.

Sismiati
Ibu rumah tangga di Balikpapan

Editor: Endah Imawati
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help