Berita Ekonomi Bisnis

Imbas Ledakan Bom, Buyer Industri Manufaktur Batal Kunjungi Jatim

Akibat ledakan bom bunuh diri yang terjadi di Surabaya dan Kabupaten Sidoarjo, mulai memberi imbas pada kondisi ekonomi.

Imbas Ledakan Bom, Buyer Industri Manufaktur Batal Kunjungi Jatim
surya/sri handi lestari
Suasana Mal Tunjungan Plaza Surabaya yang lengang dari pengunjung, Senin (14/5/2018). 

SURYA.co.id | SURABAYA - Akibat ledakan bom bunuh diri yang terjadi di Surabaya dan Kabupaten Sidoarjo, mulai memberi imbas pada kondisi ekonomi.

Menurut Ketua Forum Komunikasi Asosiasi (Forkas) Jawa Timur (Jatim), Nur Cahyudi, pihaknya sudah menerima laporan bila beberapa buyer di industri manufaktur (perakitan) membatalkan kunjungannya.

"Untuk industri manufaktur, banyak buyer yang membatalkan kunjungan ke Jatim. Kalau tidak segera diatasi akan lebih banyak memberi imbas negatif pada ekonomi," ungkap Nur Cahyudi, Senin (14/5/2018).

Karena itu pihaknya, berharap segera ada penyelesaian secara cepat. Jangan sampai teror berlanjut. Karena itu, pihaknya meminta kepada aparat keamanan (polri dan TNI) untuk bertindak tegas , cepat dan akurat, memberantas terorisme sampai ke akar akarnya.

"Kedua kepada DPR RI, segera menyelesaikan revisi undang-undang tindak pidana terorisme hingga akhir Mei 2917, karena terorisme sudah meresahkan masyarakat Indonesia," lanjut Nur Cahyudi.

Ketiga, mendukung presiden RI, apabila DPR RI hingga akhir Mei 2018 revisi undang-undang tindak pidana terorisme belum terselesaikan, agar Presiden RI mengeluarkan perpu tentang tindak pidana terorisme.

Keempat, apabila tidak dilakukan secara cepat, selain akan mengganggu stabilitas keamanan, juga akan terpengaruh terhadap capaian target-target pembangunan ekonomi dan kinerja ekonomi nasional yang menjadi tanggung jawab pemerintah.

"Aktivitas ekonomi di Surabaya, pada hari Minggu kemarin, dilaporkan terutama ritel turun rata rata hingga 30 persen. Hari ini, ada ledakan lagi dan kondisi retail semakin sepi," tandasnya.

Penulis: Sri Handi Lestari
Editor: Parmin
Ikuti kami di
KOMENTAR

berita POPULER

TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help