Citizen Reporter

Lempar Saja Emosi dalam Tulisan

Daripada marah, kecewa, sedih, tak bisa berteriak gembira, lebih baik itu dimasukkan ke dalam tulisan. Menulis membuat emosi tertampung.

Lempar Saja Emosi dalam Tulisan
ist

Banyak cara yang dilakukan orang dalam melampiaskan emosinya. Akan tetapi, bagaimana cara mengelola emosi dengan cara yang lebih bermanfaat belum dilakukan banyak orang, terutama kalangan pelajar.

Beban materi pelajaran yang begitu banyak kadang-kadang membuat siswa tertekan. Belum lagi masalah pergaulan dengan teman sebaya yang sering terjadi selisih paham.

Masalah komunikasi dengan orang tua kadang-kadang tidak sejalan dengan kemauan anak. Hal itu sering membuat anak putus asa sehingga mencari pelampiasan. Tentunya itu akan berdampak buruk jika tidak dikelola dengan baik.

Lalu Abdul Fatah menyampaikan, salah satu cara mengelola emosi menjadi hal yang lebih bermanfaat adalah dengan cara menulis. Itu disampaikan Fatah dalam Lokakarya Penulisan Kreatif di Gedung Olahraga SD Karangjati, Kasihan, Bantul, Yogyakarta, Jumat (20/4/2018).

Lokakarya yang diikuti hampir 200 peserta dari kelas 3–5 berlangsung meriah. Seluruh siswa tampak antusias karena itu pengalaman pertama bagi mereka karena bisa belajar langsung dengan seorang penulis.

Acara yang diawali dengan sesi perkenalan itu, memancing beberapa siswa yang tanpa ragu-ragu memperkenalkan diri dan bercerita. Mereka menyapa Lalu Abdul Fatah dengan Kak Fatah. Pria yang sudah menerbitkan 17 buku itu mengajak anak-anak menuliskan perasaan dan emosi yang sedang mereka hadapi.

”Kita bisa mencontoh Pak Habibie, mantan presiden kita yang dalam mengelola emosi menjadi sebuah karya. Itu karena dengan menulis akan membuat kita merasa lega dan mengurangi beban emosi kita,” ujar alumnus Ilmu Hubungan Internasional Universitas Airlangga itu.

Anak-anak bisa memulai dengan menulis buku harian. Selain menjadi wadah mencurahkan segala emosi, buku harian juga bisa dijadikan tempat mengabadikan kenangan.

“Coba kalian bayangkan kalau buku itu kalian baca saat sudah dewasa. Pasti seru, kan!” imbuh pengajar di Surabaya School Hotel dan Universitas Widya Kartika Surabaya itu.

Setelah sesi menulis, acara ditutup dengan membacakan tulisan siswa. Beberapa siswa dengan penuh percaya diri membacakan karyanya di depan teman-temannya.

”Acara seperti ini sangat bermanfaat karena mereka bisa belajar dengan narasumber langsung, sehingga bisa menjadi sumber inspirasi bagi anak-anak,” imbuh Nur Saidah, salah satu guru di SD Karangjati.

Isyani
Guru di SD Banyuripan, Kasihan, Bantul, Yogyakarta

Editor: Endah Imawati
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help