Berita Banyuwangi

Cara Kreatif Promosi Desa dengan Parade Kostum dari Bambu

Warga desa Gintangan punya cara kreatif untuk mempromosikan produk desanya, yakni dengan menggelar fashion show berbahan dasar bambu

Cara Kreatif Promosi Desa dengan Parade Kostum dari Bambu
surabaya.tribunnews.com/haorrahman
Salah satu kostum berbahan dasar bambu di Festival Bambu Gintangan. 

SURYA.co.id | BANYUWANGI - Desa Gintangan, Kecamatan Blimbingsari, Kabupaten Banyuwangi, terkenal dengan kerajinan bambu. Mayoritas penduduk di desa ini menggantungkan perekonomiannya pada bambu.

Warga desa punya cara kreatif untuk mempromosikan produk desanya, dengan menggelar fashion show berbahan dasar bambu, Minggu (6/5).

Mulai anak-anak hingga dewasa, tampil dengan berbagai bentuk kostum berbahan bambu dalam acara yang masuk agenda Banyuwangi Festival itu.‎

Bupati Banyuwangi Abdullah Azwar Anas, mengatakan, masyarakat Gintangan kian dewasa dan kreatif dalam mengembangkan potensinya.

"Sudah banyak wisatawan yang datang ke Gintangan. Desa ini harus lebih mempercantik diri agar nyaman bagi wisatawan dan para pembeli kerajinan," kata Anas.

Bahkan menurut Anas, pihaknya ingin mengundang pelatih dari luar negeri, agar produksi anyaman bambu Gintangan kian meningkat.

Anas mengatakan, festival merupakan upaya untuk meningkatkan UMKM.

"Dengan banyak orang datang, akan membuat produk-produk UMKM kian dikenal. Festival merupakan cara kami untuk promosi produk UMKM," kata Anas.

Pemkab Banyuwangi juga kolaborasi dengan berbagai start up, untuk mempromosikan produk UMKM.

‎Kepala Desa Gintangan, Rusdianah mengatakan, festival ini untuk mengapresiasi kreativitas masyarakat.

"Festival ini tidak hanya mendukung perekonomian desa, tapi juga memunculkan ide-ide kreatif sekaligus konsolidasi potensi desa," kata Rusdiana.

Desa Gintangan, sejak1980-an, telah menjadi sentra kerajinan bambu dan sudah memasok untuk kebutuhan pasar nasional.

Bahkan, hasil olahannya diekspor ke sejumlah negara, seperti Jepang, Brunei Darussalam, Thailand, India, dan berbagai negara lainnya.

"Di sini untuk penganyam ada 55 persen dari 6700 penduduk. Sudah sering kirim kerajinan ke Malaysia dan Brunei," kata Rusdiana.

Selain menganyam dalam festival ini juga ada tampilan atraksi kesenian barong, hadrah, tetek dan main egrang. Malam harinya, pengunjung dan masyarakat juga dihibur pertunjukan seni janger. 

Penulis: Haorrahman
Editor: Eben Haezer Panca
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help