Lifestyle

Surabaya Fashion Parade 2018, Enam Desainer Usung Tema Etnik

Surabaya Fashion Parade 2018 menjadi ajang bagi enam desainer kondang untuk menyuguhkan rancanan busana mereka yang terbaru bertema etnik.

Surabaya Fashion Parade 2018,  Enam Desainer Usung Tema Etnik
surabaya.tribunnews.com/ahmad zaimul haq
Desainer berdampingan dengan model menunjukkan busana ethnic dalam Surabaya Fashion Parade 2018, Rabu (2/5). 

SURYA.co.id | SURABAYA - Ajang Surabaya Fashion Parade (SFP) 2018 yang digelar mulai Rabu (2/5/2018) hingga Minggu (6/5/2018) bakal menyuguhkan tampilan busana yang berbeda sesuai tema. Event SFP ini dimulai dengan tampilan busana yang mengangkat busana tradisional lewat tema Ethnic.

Pada tema Ethnic ini, ada enam desainer terkemuka yang menyuguhkan rancangan busana yang berbeda. Desainer itu mulai dari RI Clothing, Interim Clothing, Alphiana Chandrajani, Novita Yunus, Jarit and DRU, serta desainer nasional Deden Siswanto.

Tampilan beda dari busana ini diawali Interim Clothing, yang mengangkat olahan motif lewat Rust Dye atau pewarnaan dengan karat, dan biasa dikenal dengan batik teyeng.

Pada batik teyeng ini, cara pewarnaannya alami atau dengan menempelkan kawat berkarat pada kain, sehingga muncul motif warna keemasan. Teknik ini dipadukan dengan pewarnaan Shibori yang bercorak gelap, sehingga jadi motif batik yang kuno tapi baru.

“Warnanya menggunakan cara tradisional tapi motifnya modern. Motif seperti ini tak bisa diduplikasi,” jelas Dibya Hody, Creative Director Interim Clothing kepada Surya di TP 6, Rabu (⅖).

Hampir senada dengan Interim Clothing, NY by Novita Yunus juga mengangkat 12 busana dengan mengombinasikan dua teknik berbeda, yakni batik Indonesia dan Shibori dari Jepang. Kombinasi dua teknik berbeda ini menghasilkan busana dengan tema Against the Tide. Dari tema ini, warna busana dengan paduan antara deep blue, browny, deep green, dan merah jadi daya tariknya.

Jika Interim dan NY mengusung paduan batik dan shibori, maka RI Clothing lebih fokus pada jenis batik Indonesia, terutama yang terkait budaya di Jogjakarta. Creative Director RI Clothing, Heriyanto menuturkan, titik berat pada batik Jogja seperti lurik dan teyeng membuatnya mengangkat tema aneh, yakni The Story of Yanto.

“Inspirasinya dari penjaga pos ronda bernama Yanto, yang punya kebiasaan pakai sarung dililit di leher, pinggang atau tutupi badan. Kebiasaan ini diaplikasi pada busana kami,” paparnya.

Adapun desainer Alphiana Chandrajani memilih tema Zen of Live atau terkait kehidupan dan adat budaya Jepang. Itu diejawantah dalam tampilan busana ala Jepang, seperti kimono yang sudah dikombinasi dengan busana modern.

Sedangkan Jarit and DRU lebih memilih tema Boho in Love, dimana ada 12 gaya busana dengan paduan warna dari alam semesta dan keindahan kain Nusantara. Terakhir, desainer Deden Siswanto mengangkat tema Legatia atau legacy, yang berarti sesuatu yang diwariskan dari masa lalu, dalam hal ini kain tradisional Indonesia.

Penulis: Sudharma Adi
Editor: Eben Haezer Panca
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

berita POPULER

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved