Penjelasan Dosen Psikologi Ubaya Soal Tren Selebgram: Netizen Tertarik Konten Unik

Tren Selebgram yang muncul di masyarakat ternyata bisa dijelaskan secara teoritis. Nah, berikut pendapat Taufik Akbar Rizqi Yunanto SPSI MPSI,

Penjelasan Dosen Psikologi Ubaya Soal Tren Selebgram: Netizen Tertarik Konten Unik
SURYA.co.id
Taufik Akbar Rizqi Yunanto SPSI MPSI 

SURYA.co.id | Surabaya - Tren Selebgram yang muncul di masyarakat ternyata bisa dijelaskan secara teoritis.

Nah, berikut penjelasan Taufik Akbar Rizqi Yunanto SPSI MPSI, Dosen Fakultas Psikologi Ubaya:

TREN selebgram sudah cukup lama muncul. Selebgram berarti orang yang terkenal melalui dunia media sosial Instagram. Kalau kita melihat, selebgram yang ada saat ini rata-rata masih berusia remaja.

Usia remaja, menurut tinjauan psikologi, berusia antara 12-20 tahun. Pada usia itu, seseorang masuk masa-masa pencarian jati diri. Mereka masih masih butuh eksitensi dan pengakuan dari orang lain.

Di usia itu seseorang sudah lepas dari orang tuanya. Lalu, orientasi mereka berganti pada orang lain di luar keluarga. Mereka membutuhkan mengakuan dan eksisensi dengan cara memposting konten-konten yang disukai netizen.

Feedback itu oleh selebgram dianggap sebagai apresiasi. Hal itu semakin menguatkan diri untuk membuat konten baru lagi untuk mendapat respons yang sama, sekaligus baru. Dalam ilmu psikologi, kondisi ini disebut positive reinforcement atau penguatan positif.

Era digital memudahkan seseorang untuk mengekspresikan diri di dunia maya. Sebab di sana mereka tidak diikat oleh aturan tertulis.

Berbeda dengan di dunia nyata. Berekspresi berhadapan orang lain, mereka tidak leluasa karena merasa takut dinilai secara langsung. Ini terkait juga dengan nilai yang berlaku di dunia nyata. Sehingga perilaku kehidupan selebgram di dunia nyata dan maya, bisa berbeda.

Dampaknya, seseorang lebih merasa percaya diri karena merasa tidak ada orang yang membatasi. Bagusnya, di dunia maya bisa menjadi katarsis atau pelampiasan emosi.

Kehadiran selebgram selalu beriringan dengan adanya netizen. Ada netizen yang mem-follow selebgram karena ikut-ikutan, ada juga yang karena memang suka. Mereka yang memang suka umumnya menganggap postingan seorang selebgram sebagai hal yang unik dan tidak biasa.

Postingan selebgram yang unik mendorong netizen untuk ingin tahu. Sementara postingan yang biasa-biasa saja, tidak menarik bagi netizen untuk di-follow. Sebagai contoh, apabila ada orang yang suka foto pemandangan, meskipun bagus akan sulit menjadi seorang selebgram jika tak unik.

Beda, misalnya, ketika seseorang spesifik mengunggah konten-konten yang lebih spesifik dan unik, postingan tersebut akan mengundang orang untuk mengikuti karena “tidak ditemui sebelumnya”. Intinya, sesuatu hal yang unik akan memancing seseorang untuk mencari tahu.

Di Indonesia, kalau kita lihat secara umum, orang-orang lebih menyukai hal-hal berbau fenomenal, yang secara umum bersifat negatif.

Ini karena orang sini pada umumnya mudah menganggap dirinya negatif. Jadi mudah juga mencari sisi negatif orang lain. Ini karena minimnya apresisasi. Berbeda dengan budaya orang barat yang lebih melihat sisi potisif. (fla/iit)

Editor: Adrianus Adhi
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help