Berita Magetan

Korupsi Pembangunan IRNA RSUD dr Sayidiman, Mantan Kadinkes Magetan Dieksekusi ke Lapas

Putusan Pengadilan Tipikor Surabaya, terkait kasus korupsi pembangunan ruang rawat inap (IRNA) RSUD dr Sayidiman Magetan senilai Rp 1,5 miliar.

Korupsi Pembangunan IRNA RSUD dr Sayidiman, Mantan Kadinkes Magetan Dieksekusi ke Lapas
surya/doni prasetyo
Terpidana kasus korupsi Ehud Alawy setelah dieksekusi Kejaksaan Negeri (Kejari) Magetan berdasarkan keputusan Pengadilan Tindak Pidana Korupsi (Tipikor) saat diperiksa petugas Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) klas IIB, Magetan, sebelum dimasukkan sel Lapas setempat. 

SURYA.co.id | MAGETAN - Kejaksaan Negeri (Kejari) Magetan melakukan eksekusi kepada terpidana Ehud Alawy mantan Kepala Dinas Kesehatan (Kadinkes) Kabupaten Magetan.

Ini berdasarkan Putusan Pengadilan Tindak Pidana Korupsi (Tipikor) Pengadilan Negeri Surabaya, terkait kasus korupsi pembangunan ruang rawat inap (IRNA) VI RSUD dr Sayidiman Magetan 2010 senilai Rp 1, 5 miliar.

"Terpidana divonis satu tahun hukuman badan karena terbukti melakukan korupsi sesuai Undang Undang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi di Pengadilan Tipikor Pengadilan Negeri (PN) Surabaya," kata Kepala Kejari Magetan, Atang Pujiyanto, kepada Surya, Kamis (26/4-2018).

Atang mengatakan Polres Magetan menetapkan status tersangka kepada Ehud Alawy, sembilan bulan lalu tepatnya, Selasa ( 4/7/2017). Praktis terpidana Ehud Alawy menjalani hukuman badan di Lapas Magetan hanya sekitar tiga bulan.

"Kami lakukan eksekusi terpidana EA berdasarka Putusan Pengadilan Tipikorpada Pengadilan Negeri Surabaya dan Surat Perintah Putusan Pengadilan Kepala Kejaksaan Negeri Magetan Nomor 52 / 0.5.31 / Fu. 1/04/2018 tanggal 23 April 2018," sambungnya.

Sejak ditetapkan tersangka (TSK) di Polres Magetan, bersama tersangka lainnya yaitu Direktur PT Awan Megah Suyitno.

Namun, Ehud Alawy tidak sehari pun pernah menghuni ruang tahanan Polres, begitu juga saat dilimpahkan ke Kejaksaan Negeri, juga ke Pengadilan Tipikor.

Beda dengan TSK Suyitno yang diduga kuat sebagai Direktur PT Awan Megah "boneka" ini, sejak ditetapkan TSK di Polisi sudah menjalani penahanan, begitu juga saat dilimpahkan di Kejari dan Pengadilan Tipikor.

Ini beda dengan terpidana Ehud Alawy, begitu di vonis, hanya menghuni kamar pengap itu tiga bulan saja.

Tidak ditahannya terpidana Ehud Alawy sejak ditetapkan Polisi sebagai TSK sembilan bulan lalu, karena alasan sakit komplikasi, dan alasan itu juga diberikan kepada Kejaksaan Negeri dan juga di Pengadilan Tipikor Surabaya.

Halaman
12
Penulis: Doni Prasetyo
Editor: irwan sy
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved