Berita Surabaya

Mengintip Aktivitas Ibu-ibu Pondok Maritim Indah Membuat Kerajinan Bros dari Mutiara Asli

Puluhan bros dengan berbagai warna dan bentuk tertumpuk rapi di dalam box berwarna bening.

Mengintip Aktivitas Ibu-ibu Pondok Maritim Indah Membuat Kerajinan Bros dari Mutiara Asli
SURYA.co.id/Sugiharto
Sejumlah ibu-ibu menunjukkan hasil kerajinannya disela-sela kesibukan mengurus pekerjaan rumah tangga, Rabu (25/4/2018). 

SURYA.co.id | Surabaya - Puluhan bros dengan berbagai warna dan bentuk tertumpuk rapi di dalam box berwarna bening. Bros tersebut tampak indah karena di tambah dengan ornamen mutiara imitasi maupun asl, Rabu, (25/4/2018) 

Puluhan bros tersebut adalah hasil karya dari Ibu-ibu PKK RW 8 Pondok Maritim Indah Cluster Bougenville.

Ibu-ibu PKK yang hadir dalam sesi wawancara terlihat menggunakan bros hasil karya sendiri.

Bros yang menggantung dibawah dagu tersebut digunakan untuk menjapit hijabnya. Ketika terpantul cahaya bros tersebut berkelip-kelip.

Bros karya Ibu-ibu PKK RW 8 memiliki banyak macam bahan dasar, yakni ada yang terbuat dari plastik, akrilik, pita, dan mutiara. "Kami membuat bros dengan berbagai bentuk. Ada yang berbentuk daun, bunga, dan hewan. Mutiara yang asli kita datangkan langsung dari Lombok," kata Yohana sri hermawati salah satu anggota PKK.

Yohanan mengatakan, dua kali dalam seminggu, Ibu-ibu rutin membuat bros. Kesulitan dalam membuat bros dilihat dari bentuknya. "Tergantung bentuknya yang paling sulit serangga dan bross dagu butuh 1 jam untuk membuatnya," kata Wanita yang mengenakan kaos merah ini.

Jika dihitung, setiap harinya para warga dapat membuat hingga 30 bros.

Keterampilan membuat bros ini didapat warga dari pelatihan yang diadakan oleh kelurahan Balas Klumprik. Setelah mendapat keterampilan para warga melihat peluang bisnis, karena mereka merasa bros mempunyai nilai jual tinggi.

"Bross nilai jualnya bagus. Cepet laku, cewek-cewek kan suka aksesoris khususnya bros" ujar Yohana.

Modal awal saat membuka usaha ini, warga mengandalkan uang khas PKK. "Awalnya memakai uang khas untuk beli bahan, setelah itu memutar uang hasil dari penjualan," katanya.

Meski baru berjalan 5 bulan, bros buatan warga RW 8 selalu habis terjual. Mereka menitipkan produknya di sejumlah toko. "Omzet sebulan masih belum banyak sekitar 500 ribu," papar wanita asli Malang ini.

Yohana menjelaskan, bahwa produknya masih belum dibuat dan di jual dalam jumlah besar. Sebab mereka masih kekurangan personel untuk membuat. "Tidak semua ibu-ibu PKK membuat bros karena mereka kerja. Yang membuat cuma segelintir aja. Jualnya juga cuma disekitar wilayah Surabaya Selatan. Kami kualahan dalam membuat bros," katanya.

Setiap pisesnya Mereka membanderol bros dengan harga sepuluh ribu hingga lima puluh ribu. "Harganya paling murah dari bros buatan manapun," papar wanita berambut pirang ini.

Eni Dwihatin selaku sekretaris PKK Rw 8 mengatakan, Meski harganya terbilang murah, kualitas Bros mereka ini tahan banting. "Bros buatan kami tahan lama, ada kawat disetiap lekukan bros jadi Tidak mudah patah dan lepas," kata Eni.

Eni melanjutkan kedepan Ia dan warga akan memproduksi bros lebih banyak lagi serta memperluas jaringan pembeli. Ke depan kami akan memasarkan secara luas dengan memanfaatkan media sosial," pungkasnya.

Penulis: Danendra Kusumawardana
Editor: Adrianus Adhi
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

berita POPULER

TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help