Berita Probolinggo

Mengembalikan Identitas Sukapura Probolinggo Sebagai Sentra Bawang Putih

DKPP Kabupaten Probolinggo ingin mengembalikan identitas kecamatan Sukapura sebagai sentra penghasil bawang putih. Ini caranya.

Mengembalikan Identitas Sukapura Probolinggo Sebagai Sentra Bawang Putih
surabaya.tribunnews.com/galih lintartika

SURYA.co.id | SUKAPURA – Wilayah Kecamatan Sukapura, Kabupaten Probolinggo pernah menjadi sentra bawang putih puluhan tahun silam.

Namun sejak 20 tahun ke belakang, identitas itu mulai luntur.

Bahkan kini areanya tersisa 1 hingga 3 hektar saja, itupun orientasinya hanya untuk memenuhi kebutuhan sendiri dan dijadikan sebagai tanaman sela.

Kepala Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (DKPP) Kabupaten Probolinggo Ahmad Hasyim Ashari mengatakan, mulai tahun 2018 sesuai dengan Peraturan Menteri Pertanian (Permentan) RI Nomor 38 Tahun 2017 Tentang Rekomendasi Impor Produk Hortikultura (RIPH), para importir bawang putih diwajibkan menanam 5 persen dari kebutuhan impor di dalam negeri.

Atas Permentan tersebut jelas Hasyim, maka importir yang kerja sama dengan DKPP Kabupaten Probolinggo menargetkan penanaman bawang putih di lahan seluas 100 hektar. Tetapi , kata dia, realisasinya baru mencapai 49 hektar yang meliputi 26 hektar di Kecamatan Sukapura, 22 hektar di Kecamatan Sumber dan 1 hektar di Kecamatan Krucil.

“Momentum inilah yang kami manfaatkan agar bawang putih yang pernah hilang di Kecamatan Sukapura bisa berkembang dan tumbuh kembali. Sehingga harapannya Kabupaten Probolinggo tidak hanya dikenal sebagai penghasil bawang merah saja, tetapi juga dikenal sebagai penghasil bawang putih,” jelasnya.

Hasyim menjelaskan, untuk mengembalikan kejayaan bawang putih di Kabupaten Probolinggo, pihaknya juga bekerja sama dengan BPTP (Balai Pengkajian Teknologi Pertanian) Jawa Timur melakukan demplot di Dusun Punjul Desa Wonokerto Kecamatan Sukapura seluas 2 hektar.

“Hasil demplot ini diperkirakan mencapai 20 ton umbi basah per hektar. Ini terindikasi bahwa pengembangan bawang putih di Kecamatan Sukapura lebih menjanjikan bagi petani,” terangnya.

Hasyim menerangkan, selama ini persoalan budidaya bawang putih terletak pada ketersediaan benih yang berkualitas. Sehingga hasil demplot di Kecamatan Sukapura ini akan dijadikan sebagai benih dan dibagikan kepada petani.

“Dalam rangka memenuhi persoalan benih bawang putih, kami sudah membentuk 5 (lima) penangkar bawang putih (PB Agro Mandiri, Poktan Makmur, PB Jasa Tani, PB Puspa Agro dan Gemilang 78). Selama ini benihnya mengambil dari luar daerah, harapannya ke depan bisa mengambil dari Kecamatan Sukapura,” tegasnya.

Dengan adanya sentra bawang putih ini tambah Hasyim, setidaknya akan mampu memenuhi kebutuhan bawang putih di Kabupaten Probolinggo. Dimana harga bawang putih mencapai Rp 30 ribu per kg dengan BEP Rp 19 ribu. Sehingga masih ada keuntungan Rp 11 ribu per kg. “Harapannya Kabupaten Probolinggo kembali menjadi sentra bawang putih,” tambahnya.

Persoalan utama hilangnya peredaran bawang putih di Kabupaten Probolinggo adalah pasar, hama penyakit dan benih yang berkualitas. Saat ini varietas yang ditanam adalah Lumbu Kuning dan Lumbu Hijau.

“Ke depan kami akan melakukan pemurnian varietas Lumbu Kuning dan Lumbu Hijau. Kalau memang belum dipatenkan oleh daerah lain, maka kami akan patenkan sebagai varietas lokal asli Kabupaten Probolinggo. Apalagi prospek bawang putih ini sangat bagus. Mudah-mudahan nantinya bisa mengembalikan kejayaan bawang putih di Kabupaten Probolinggo,” pungkasnya. 

Penulis: Galih Lintartika
Editor: Eben Haezer Panca
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help