Citizen Reporter

Solusi bagi Penulis di Masa Depan

Kekhawatiran berakhirnya media cetak membuat sebagian penulis resa karena kehilangan media untuk menulis. Jangan khawatir. Masih ada cara lain.

Solusi bagi Penulis di Masa Depan
ist

Apa jadinya jika di masa depan kertas tidak diproduksi lagi? Tentu hal ini akan meresahkan bagi penulis. Penulis akan kehilangan media untuk bisa menulis. Terutama bagi para penulis yang menjadikan media cetak sebagai sarana menulis. Mendengar hal seperti itu, apakah penulis akan pensiun?

Forum Aktif Menulis (FAM) Cabang Surabaya memberikan solusi agar penulis tidak pensiun. Solusi tersebut dilakukan dalam kegiatan “Workshop Content Writer” di Majelis Mie, Jalan Citarum 2 Surabaya, Minggu (15/4/2018).

Reffi Dhinar, pembicara workshop menjelaskan mulai dari pengertian content writer hingga kiat-kiat menjadi content writer.

Hal yang menarik, semua materi yang disajikan merupakan pengalaman pribadi Reffi. Meskipun pengalaman pribadi, ia tidak canggung dan sungkan untuk membagikan ilmunya kepada belasan peserta yang hadir.

Secara sederhana, content writer merupakan penulis yang memublikasikan tulisannya di internet. Jadi mereka tidak menggunakan kertas sebagai medianya. Salah satu kiat yang dibagikan oleh Reffi untuk menjadi content writer yakni personal branding.

Personal branding dimulai dengan membuat tulisan di blog. Blog merupakan sarana gratis yang bisa dilakukan untuk menjadi content writer.

“Tulisan yang diposting di blog setidaknya tiga kali dalam sebulan. Jangan sampai blog kita tidak terisi tulisan hingga menjadi sarang laba-laba,” tutur wanita asal Sidoarjo itu.

Sebagai seorang content writer, modal awal yang harus dimiliki yakni media sosial. Peran media sosial dapat mengetahui siapa dan apa yang telah dia lakukan di bidang kepenulisan. Namun, media sosial yang dimiliki harus diatur public agar semua orang dapat melihatnya. Selain itu, kolom bio (profil) yang ada di media sosial juga harus terisi portofolio.

“Bio di media sosial perlu diganti menjadi portofolio penulis agar mendapatkan branding. Akan tetapi, konten dari bio tersebut sewajarnya saja. Tidak merendah dan tidak meninggi,” ungkap Reffi.

Apabila bio ditulis dengan gaya bahasa yang merendah, dikhawatirkan orang yang membaca akan meragukan kemampuan. Jika bio ditulis dengan gaya bahasa yang tinggi, orang akan mengira sombong. Yang ditulisnya setidaknya menunjukkan sosok itu bisa menulis dengan waktu yang singkat dan jumlah tulisan yang cukup banyak.

Jangan berhenti mencoba! Begitulah isi persentasi terakhir dari Reffi yang menggugah hati semua peserta workshop.

Ryan P Putra
Anggota FAM Cabang Surabaya
Mahasiswa Departemen Fisika ITS

Editor: Endah Imawati
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help