Citizen Reporter

Gamelan dan Cello Diramu, Jadinya Seperti Ini

Di tangan para siswa SMA Santa Maria Surabaya, seni tradisional dan modern dapat berpadu. Menghargai seni tradisi dimulai dari sekolah.

Gamelan dan Cello Diramu, Jadinya Seperti Ini
ist

Enam anak perempuan masuk ke ruang tari. Mereka membawa kipas kecil. Diiringi lagu Tanah Air yang sudah diaransemen, gerakan diawali kipas yang dibawa menutup muka.

Komposisinya pun terbelah, tiga di kiri dan tiga di kanan. Saat lagu yang diputar sesuai dengan gerakan tarian yang diharapkan, kedua tangan lalu diayunkan selama delapan ketukan, kemudian disusul gerakan tangan ukel dengan kaki sedikit mendak.

Sejurus kemudian, kipas dibuka… breett… dan diayunkan ke kanan dan ke kiri 16 kali. Itu ditutup dengan gerakan kipas ke atas dan ke bawah sembari berputar pelan.

Di sudut ruang tari lainnya, terdengar irama Rayuan Pulau Kelapa dengan kolaborasi dua siswi yang memainkan biola dan cello. Tiba-tiba, muncul 10 penari gagah. Menariknya, mereka menari dengan gemulai disesuaikan irama musik yang didengar.

Tak berlangsung lama, lagu cepat beralih rancak karena ada lengkingan suara siswi yang menyanyikan lagu Kolam Susu. Para penari bergerak antusias ke kanan dan kiri. Hmm... lincah!

Itu gambaran Tari Kipas dan Tari Rakosu (Rayuan Kolam Susu) kreasi siswa SMA Santa Maria Surabaya untuk memperoleh penilaian akhir semester pelajaran Seni Budaya. Kegiatan itu dipersiapkan intensif dan serius.

Para siswa terbagi dalam kelompok membuat konsep tari yang "membebaskan". Artinya, ide, dan gagasan benar-benar dari anak-anak, tetapi tema besarnya bertajuk Estetika Nusantara.

"Sekitar 250 siswa yang berlatih seni dari kelas XI. Mereka membuat konsep dan ide sendiri. Ada kolaborasi tari yang meliputi tradisi kreasi, modern, dan pop. Seninya ada seni tari, seni musik, dan seni drama,” kata Eva Dianita, guru Seni Tari Santa Maria, Selasa (17/4/2018).

Keberagaman budaya yang memesona telah menjadi ikon dan ciri khas Indonesia. Bukan Indonesia namanya jika tiap daerah tidak memiliki kekhasan jenis tarian, musik, maupun bahasanya.

Sekolah sebagai lembaga pendidikan formal bisa menjadi jembatan bagi siswa untuk terus menggali kekhasan itu melalui potensi diri, bakat, dan minat. Menghargai keunikan untuk menunjang life skill siswa melalui pelatihan tari dan musik adalah salah satu cara untuk memperkuat pendidikan karakter siswa di sekolah.

"Saya senang bisa menari Kipas. Tarian ini membuat saya lebih sabar dan lemah lembut karena saya tipe orang yang tidak sabaran dalam mengerjakan sesuatu. Hehehe," ujar Theresia Yacinta siswi XI Bahasa.

Chatarina Ratna Ameliawati
Guru SMA Santa Maria Surabaya

Editor: Endah Imawati
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help