Berita Surabaya

Sidang Dugaan Pelecehan Seksual di RS, Terdakwa Dapat Dukungan Para Perawat

Zunaidi Abdillah, mantan perawat RS National Hospital Surabaya yang didakwa melakukan pelecehan seksual, mendapat dukungan dari para perawat

Sidang Dugaan Pelecehan Seksual di RS, Terdakwa Dapat Dukungan Para Perawat
surabaya.tribunnews.com/danendra kusumawardana
Sidang lanjutan kasus dugaan pelecehan seksual di RS National Hospital yang menempatkan mantan perawat sebagai terdakwa, Selasa (16/4/2018) 

SURYA.co.id | SURABAYA - Sidang dugaan pelecehan seksual di RS National Hospital, Surabaya, kembali dilanjutkan, Senin (16/4/2018).

Agenda sidang kali inia dalah tanggapan penuntut umum terhadap eksepsi terdakwa Zunaidi Abdillah yang sebelumnya disampaikan oleh kuasa hukumnya. 

Jaksa Penuntut Umum, Deddy Arisandi mengatakan, eksepsi yang diajukan Kuasa hukum Zunaidi Abdillah, Sholeh, masih belum jelas. 

"Kami mencermati eksepsi yang diajukan. Menurut kami eksepsi tersebut masih belum jelas," katanya.

Seusai sidang, kuasa hukum terdakwa Zunaidi Abdillah, Sholeh memberikan tanggapan atas pernyataan yang dilontarkan JPU mengenai eksepsi yang diajukannya. Sholeh mengajukan eksepsi karena dakwaan yang di terima Sholeh masih kabur.

"Jaksa masih berpendapat eksepsi kita tidak jelas, padahal menurut kita dakwaan itu tidak dijelaskan pada saat kejadiaan, siapa saksinya, apa alat buktinya," katanya.

Sholeh melanjutkan, dakwaan yang jelas dan cermat itu tidak hanya berpatokan hanya pada BAP tersangka. Menurut Sholeh, jika hanya berpatokan pada BAP tersangka kasus ini menjadi kabur.

"Junet (sapaan Zunaidi) menerima tekanan psikis sejak awal penangkapan. sehingga menurut kami dakwaan ini harus dibatalkan," tegasnya.

Sholeh mengatakan, hakim harus berani serta tidak boleh ditekan opini oleh video yang viral beredar tentang permintaan maaf dan kekhilafan Zunaidi.

"Namun faktanya ini tidak ada, video tersebut telah membenarkan bahwa ZA telah melakukan tindakan asusila," ungkapnya.

Halaman
123
Penulis: Danendra Kusumawardana
Editor: Eben Haezer Panca
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

berita POPULER

TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help