Citizen Reporter

Sarip Bangkit Lagi di Bumi Jenggala

Teriakan ibu membuat Sarip yang sudah tergeletak ditembak Belanda, bangkit lagi. Cerita rakyat Sarip Tambak Oso tetap menarik untuk anak muda.

Sarip Bangkit Lagi di Bumi Jenggala
ist

Sarip Tambak Oso, cerita rakyat asal kampung Tambak Oso Sedati Sidoarjo yang biasanya dipentaskan melalui ludruk atau teater modern, Jumat (13/4/2018) dipentaskan dalam bentuk wayang eksperimental. Pertujukan digelar di Madarasah Ibtidaiyah Muslimat Nahdatul Ulama (MINU) Pucang Sidoarjo.

Acara itu terselenggara atas kerja sama Pusat Studi Pendidikan dan Budaya (PSPB) Universitas Muhammadiyah Sidoarjo (Umsida), MINU Pucang Sidoarjo, dan Komunitas Barisan Penyelamat Manusia (Batman) Umsida. Itu bentuk program pengabdian kepada masyarakat untuk mengampanyekan pentingnya kearifan lokal bagi generasi penerus bangsa.

Batman Umsida telah melakukan proses persiapan pertunjukan itu sekitar dua bulan. Mereka menggandeng dalang muda Herdianto Sigit yang juga mahasiswa Umsida.

“Proses itu mulai dari pembuatan wayang karakter dalam lakon Sarip Tambak Oso, latihan pementasan, dan pemilihan muatan kerarifan yang ingin kami sampaikan ke generasi muda,” ujar Deni Utomo, Koordinator Budaya Komunitas Batman.

Niko Fediyanto dari PSPB menyambut baik tawaran kerja sama itu. Menurutnya, PSPB memang wajib mengemas pengabdian kepada masyarakat.

“Kami yang bergerak di bidang pendidikan dan budaya, sangat bangga dengan Batman yang kreatif menciptakan Wayang Sarip dan ingin melestarikan budaya lokal,” kata Niko.

Niko menambahkan, menyebarluaskan pengetahuan kearifan lokal itu mereka menghubungi beberapa sekolah, salah satunya adalah MINU Pucang Sidoarjo. Pertunjukan itu adalah even kedua.

Sebelumnya, pada 12 Februari 2018, Wayang Sarip telah dipentaskan juga di TK Dharmawanita Persatuan 1 Terung Kulon, Krian, Sidoarjo.

Pertunjukan Wayang Sarip berlangsung sekitar 60 menit yang mengisahkan jagoan Sarip dari kampung Tambak Oso yang gigih melawan penjajah Belanda. Sarip selalu hidup kembali setelah ditembak Belanda ketika ibunya memanggil.

“Rip… tangia! Durung wayahmu mati!” teriak ibu Sarip.

Usai pertunjukan dilakukan diskusi bersama para siswa. Mereka mendapatkan muatan positif tentang kesalehan anak yang berbakti kepada orang tuanya. Anak yang saleh adalah anak yang selalu membela bangsanya terhadap segala ancaman.

Para siswa MINU Pucang sangat antusias dengan pertunjukan itu. Mereka berebut memainkan tokoh wayang Sarip. Diharapkan anak-anak itu bisa mencontoh karakter baik dari Sarip dan mencintai budaya asli Indonesia.

Muhammad Rosidin Hidayatuallah
Anggota Komunitas Batman
Universitas Muhammadiyah Sidoarjo

Editor: Endah Imawati
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help