Citizen Reporter

Peluang Menulis Buku Ajar Besar, Pemainnya Sedikit

Menulis buku ajar menjadi peluang bagi para dosen dan guru. Pasarnya masih terbuka lebar dan pemainnya sedikit.

Peluang Menulis Buku Ajar Besar, Pemainnya Sedikit
pixabay.com

Buku ajar menjadi salah satu karya dunia pendidikan yang memberikan pengaruh besar terhadap kualitas keilmuan mahasiswa. Sayangnya, di Indonesia masih banyak problem yang membuat jumlah buku ajar masih minim.

Beberapa di antaranya adalah banyaknya buku ajar yang ditulis ala kadarnya. Materinya seperti makalah, resume dan justru hanya berisi hasil riset yang masih diolah dengan format yang konvesional.

“Selain itu, penulisannya sering sebatas memenuhi kebutuhan akademik,” ujar Luthfi J Kurniawan, Direktur Intrans Publishing.

Hal itu sangat disayangkan, karena menurut Luthfi buku ajar di Indonesia sebetulnya memiliki pasar yang lumayan. Hanya karena beberapa hal yang kurang dimaksimalkan, buku ajar kerap gagal keluar sebagai best seller.

Luthfi mengungkapkan itu pada gelaran Pengayaan Penulisan Buku Ajar/Teks. Acara itu digelar Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) Press dan Direktorat Penelitian dan Pengabdian Masyarakat (DPPM) UMM di RSS UMM, Rabu (11/4/2018).

“Perspektif penerbitan kampus dan di luar kampus sangat berbeda. Kalau di kampus biasanya tidak berpikir soal bisnis atau cash flow. Secara konten ok, tetapi berkaitan dengan pasar tidak. Untuk marketing memang dibutuhkan perlakuan-perlakuan yang cukup serius,” tambahnya.

Tidak hanya soal marketing, desain dan pemaparan isi buku ajar/teks juga perlu menjadi perhatian para dosen penulis buku ajar. Hal itu penting, mengingat keseimbangan antara wajah/judul, lead/pendahuluan, isi dan simpulan atau penutup juga turut menentukan menariknya buku bagi pembaca.

“Ini harus seimbang, misalnya dengan perbandingan wajah, pendahuluan sekitar 10 persen, isi yang diibaratkan sebagai tubuh 80 persen, dan simpulan atau penutup 10 persen juga,” ujar Yunan Syaifullah, Staf Ahli Penerbitan UMM.

Pada kesempatan itu Yunan juga menyampaikan bahwa pembiayaan yang disediakan berbagai pihak, mulai internal hingga eksternal sangat banyak. Sampoerna Foundation misalnya. Hanya, persoalan yang masih kerap muncul menghadang para penulis buku ajar adalah penyajian proposal pengajuan buku yang menarik.

“Persoalannya adalah ketika kita mengajukan pendanaan luar kampus kuncinya yang pertama adalah proposal dan ini yang dinilai utamanya adalah cover. Akan baik, jika ada klinik khusus untuk para penulis dalam visualisasi cover,” tandasnya.

Di akhir Yunan menyampaikan, beberapa hal lain yang harus menjadi perhatian dalam penulisan buku ajar. Yang termasuk di dalamnya adalah judul yang menarik, kata pengantar atau prolog dimana penulis menggunakan sinopsis singkat dengan isi maksimal enam halaman.

Bagian lain adalah daftar isi buku lengkap, bahasan isi (dialog) dilengkapi pengantar isi bahasan, isi bahasan utama serta evaluasi bahasan. Jangan lupa harus ada indeks, daftar pustaka lengkap, dan daftar riwayat penulis juga harus disertakan.

“Jangan lupa cek autoplagiasi juga. Ini sekarang dapat dilakukan penulis sendiri dengan bukti print out statistiknya yang diajukan bersama hardcopy naskah sebanyak dua ekslempar pada penerbit,” pungkasnya.

Silvia Ramadhani
Staf Humas Universitas Muhammadiyah Malang

Editor: Endah Imawati
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved