Berita Pendidikan Surabaya

Terkait Demo Siswa SMAN2 Malang, begini Komentar Pengamat Pendidikan Prof Zainuddin Maliki

Demo siswa SMAN 2 Malang untuk menurunkan kepala sekolahnya dari jabatannya merupakan wujud penyelesaian non kovensional.

Terkait Demo Siswa SMAN2 Malang, begini Komentar Pengamat Pendidikan Prof Zainuddin Maliki
surya/Sulvi Sofiana
Pengamat pendidikan, Zainudin Maliki 

SURYA.co.id | SURABAYA - Demo siswa SMAN 2 Malang untuk menurunkan kepala sekolahnya dari jabatannya merupakan wujud penyelesaian non kovensional.

Harusnya siswa melakukan dialog terlebih dahulu untuk musyawarah. Kalau memang tidak menemukan jalan keluar, maka demo memang menjadi salah satu solusi.

Demo ini menunjukkan sekolah membutuhkan kepemimpian yang baik. Kepemimpinan yang baik ini didasarkan pada pengaruh, bukan pada priop
ritas kekuasaan atau kekuatan.

Artinya kepala sekolah memang pemimpin yang memiliki posisi penting di mata guru, siswa dan steak holder lainnya.

Pengaruh ini dicapai dengan kharisma hingga kemampuan dalam berinteraksi dan komunikasi dengan baik.

Sama halnya dengan pemimpin umat, kepala sekolah bisa menggerakkan potensi sekolahnya. Kalau sudah punya potensi itu dia tidak perlu menggunakan kekerasan fisik.

Demo siswa ini harus diperhatikan faktornya dari mana. Bisa jadi siswa memang demo secara murni karena ada masalah yang tidak bisa dipecahkan.

Setelah ada solusi dari tuntutan demo, dengan penggantian kepala sekolah.

Kepala sekolah yang baru harus mampu menciptakan rekonsiliasi. Karena sempat ada konflik dalam sekolah.

Suasana kondusif harus diciptakan, karena pembelajaran bisa berjalan kalau suasana sudah kondusif.

Tugas dan wewenang kepala sekolah selama ini sudah ada regulasinya. Jadi meskipun sejak ditangani pemprov jatim sekolah memiliki wewenang sepenuhnya untuk manajemen.

Kepala sekolah harusnya mentaati berbagai aturan seperti pungutan yang bersifat sumbangan bukan tarikan.

Posisi anggaran pendidikan saat ini tidak banyak, jadi kepala sekolah jadi mendapat tekanan untuk memenuhi pembiayaan sekolah sehingga melanggar aturan.

Jadi kepala sekolah memang harus mampu memenuhi pekerjaan meskipun dibawah tekanan.

Penulis: Sulvi Sofiana
Editor: Parmin
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help