Liputan Khusus

Kematian Zaini Munculkan Protes dari Berbagai Organisasi Buruh Migran, Ini Kata Mereka

Kematian Muchammad Zaini Misrin, TKI yang dihukum pancung di Arab Saudi, memunculkan protes dari berbagai organisasi buruh migran.

Kematian Zaini Munculkan Protes dari Berbagai Organisasi Buruh Migran, Ini Kata Mereka
surya/istimewa
Mendiang Mochammad Zaini, yang dieksekusi mati atas tuduhan membunuh majikannya. 

SURYA.co.id - Kematian Muchammad Zaini Misrin, TKI yang dihukum pancung di Arab Saudi, memunculkan protes dari berbagai organisasi buruh migran.

Migrant Care bersama Serikat Buruh Migran Indonesia, Jaringan Buruh Migran, Human Rights Working Group, dan Komisi Migran KWI mengeluarkan pernyataan bersama untuk mengecam kejadian itu.

Mereka menuntut pemerintah untuk mengeluarkan nota protes diplomatik ke Kerajaan Arab Saudi.

Bahkan, mereka juga mendesak pemerintah Indonesia mengumumkan persona non grata terhadap Duta Besar Kerajaan Arab Saudi untuk Indonesia.

“Mendesak pemerintah Indonesia untuk mengerahkan sumberdaya politik dan diplomasi untuk mengupayakan pembebasan ratusan buruh migran yang terancam hukuman mati di seluruh dunia dan melakukan moratorium pelaksanaan hukuman mati di Indonesia sebagai komitmen moral dan menentang hukuman mati terhadap siapapun,” kata Wahyu Susilo, Direktur Eksekutif Migrant Care, mengutip isi pernyataan bersama, pekan lalu.

Dalam pernyataan bersama itu, mereka juga menilai Pemerintah Kerajaan Arab Saudi melanggar prinsip tata krama hukum internasional.

Apalagi Arab Saudi tidak pernah menyampaikan mandatory consular notification, baik saat dimulainya proses peradilan dengan ancaman hukuman maksimal hukuman mati maupun saat pelaksanaan eksekusi hukuman pancung.

Ia mengatakan, ada beberapa kejanggalan dan ketidakadilan hukum mulai proses pemeriksaan, peradilan, vonis mati hingga proses eksekusi terhadap Muchammad Zaini Misrin.

“Serta pengabaian pada prinsip-prinsi peradilan yang bebas serta pengabaian pada hak-hak terdakwa yang menghadapi ancaman hukuman maksimal,” jelasnya.

Protes Migrant Care bersama organisasi lain juga disampaikan ketika eksekusi mati Siti Zainab, TKI asal Bangkalan pada 14 April 2015.

Ketika itu, mereka menganggap otoritas Arab Saudi melakukan pengulangan sikap karena sebelumnya juga mengeksekusi mati Ruyati, TKI lainnya pada 18 Juni 2011.

“Perulangan sikap ini membuktikan bahwa mereka melecehkan hubungan diplomasi Indonesia- Arab Saudi yang seharusnya didasari pada prinsip saling kepercayaan,” katanya mengutip pernyataan bersama yang dikeluarkan ketika itu. (Aflahul Abidin/Wiwit Purwanto/Ahmad Faisol)

Editor: Titis Jati Permata
Sumber: Surya Cetak
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved