Lapor Cak

Jembatan Alternatif Pondok Candra - Gunung Anyar Kidul Sempit, Pengendara Motor Rawan Bersenggolan

Jembatan alternatif penghubung Jalan Pondok Candra dengan Jalan Gunung Anyar Kidul memiliki lebar hanya sekitar 3 meter.

Jembatan Alternatif Pondok Candra - Gunung Anyar Kidul Sempit, Pengendara Motor Rawan Bersenggolan
surya/danendra kusumawardana
Pengendara motor berebut menyeberang di jembatan alternatif penghubung Pondok Candra dan Gunung Anyar Kidul. 

SURYA.co.id |SURABAYA - Jembatan alternatif penghubung  Jalan Pondok Candra dengan Jalan Gunung Anyar Kidul memiliki lebar hanya sekitar 3 meter.

Meski begitu pengendara masih tetap nekat untuk menggunakan jembatan itu untuk menyeberang. Jembatan itu bahkan digunakan untuk dua arah dari Gunung Anyar Kidul maupun sebaliknya dari arah Pondok Candra.

Jarak antara pengendara motor ketika berpapasan sangat mepet, sehingga harus memiringkan setirnya agar tidak bersenggolan.

Jembatan tersebut adalah alternatif satu-satunya yang dapat memungkas waktu si pengendara. Jalan alternatif lain yakni jalan Rungkut Mapan, atau lewat Perumahan Wiguna tetapi akan memakan waktu lama karena harus berputar lebih jauh melewati Jalan Ir. Soekarno.

Setiap pukul 16.30-17.30 jembatan tersebut dilalui pengendara motor dengan volume tinggi karena mereka harus bergantian menyeberang. Baik dari arah Gunung Anyar Kidul ataupun Pondok Candra.

Jalan Gunung Anyar Kidul juga terlihat sempit hanya selebar 6-8 meter saja.

Sri Swantuti seorang pedagang minuman menuturkan, jalan tersebut selalu macet saat jam pulang kerja. "Mulai parah-parahnya macet itu pukul 16.00," tuturnya.

Ia juga melihat beberapa orang yang menyeberang jembatan itu tergopoh saat berpapasan.

"Jembatan ini kan sempit, jadi tak jarang pengendara motor itu bersenggolan," terang wanita yang sudah berdagang di samping jembatan.

Ketua RW 3 Ahmad Sanusi menceritakan, jembatan tersebut dulunya hanya digunakan jalan pertolongan bagi warganya yang hendak ke Pondok Candra.

Halaman
12
Penulis: Danendra Kusumawardana
Editor: Parmin
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

berita POPULER

TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help