Citizen Reporter

Ini Cara Anak Muda Benahi Daerah Tertinggal

Bangkalan dan Sampang mendapat sebutan daerah tertinggal. Anak mudanya bagaimana? Saatnya mereka membuat perubahan.

Ini Cara Anak Muda Benahi Daerah Tertinggal
ist

Istilah generasi Z mulai digandrungi masyarakat untuk membangun bangsa. Keberadaannya yang tersebar di seluruh Indonesia menjadi penerang bagi masing-masing daerah, tak terkecuali Madura.

Di Pulau Madura, ada dua kabupaten yang ditetapkan Jokowi sebagai daerah tertinggal yaitu Bangkalan dan Sampang. Pada kondisi ini, peran generasi Z benar-benar diharapkan untuk membangun daerah.

Ide besar Rumah Peneleh Regional Madura membuat sekolah aktivis menjadi salah satu usaha dalam membangun daerah. Sekolah Aktivis Peneleh Regional Madura (SAPRM) dilaksanakan di Yayasan Ibnu Sabil, Socah, Bangkalan (16-18/3/2018).

Antusiasme terlihat dari beberapa peserta yang datang dari berbagai kota. Mereka adalah mahasiswa dari UIN Sunan Ampel Surabaya, Universitas Madura Pamekasan, STAIN Pamekasan, dan Universitas Trunojoyo Madura.

Beberapa pelatihan diberikan oleh pemateri dengan latar belakang akademisi dan pebisnis. Mereka adalah Aji Dedi Mulawarman (Ketua Yayasan Rumah Peneleh), Ari Kamayanti dan Achdiar Redy Setiawan (akedimisi), serta pebisnis muda Paramandana Cattra.

Materi yang diberikan kepada peserta antara lain, kepemimpinan, pengenalan wajah Madura, dan start-up socio-religopreneur.

“Proyek yang dirancang bersama untuk kemaslahatan umat, harus dilakukan bersama. Jadi tidak ada istilah kerja sendiri. Kalau sudah meng-infaq-kan diri untuk umat, maka mari kita jalankan bersama-sama,” tegas Ari Kamayanti.

Uniknya, setelah kegiatan sekolah aktivis ini selesai, ada proyek besar yang harus dijalankan bersama. Proyek yang dijalankan berawal dari hal kecil, yaitu membangun desa di kecamatan Socah.

Dengan demikian, peninggalan aktivitas itu tidak hanya berupa jejak, tetapi aksi nyata untuk pembangunan masyarakat. Salah satunya adalah memulai bisnis berbasis socio-religiopreneur.

Kegiatan yang dilaksanakan selama tiga hari itu benar-benar dimanfaatkan peserta untuk mengembangkan diri.

“Bermanfaat sekali. Selain bisa mengembangkan diri, saya senang bisa berkontribusi untuk masyarakat dalam membangun perekonomian di desa ini,” ujar Syifa, mahasiswa UIN Sunan Ampel, salah satu peserta sekolah aktivis.

Nurul Aini
Mahasiswa Universitas Trunojoyo Madura

Editor: Endah Imawati
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help