Press Release

Festival Proyeksi 2018, Mahasiswa Komunikasi Unair Usung Kebhinnekaan Lewat Layar Tancap

Lewat layar tancap, pesan-pesan kebhinnekaan disampaikan oleh mahasiswa Komunikasi Unair di ajang Festival Proyeksi 2018.

Festival Proyeksi 2018, Mahasiswa Komunikasi Unair Usung Kebhinnekaan Lewat Layar Tancap - festival-proyeksi-2018-komunikasi-unair_20180319_223829.jpg
ist
Pemutaran film di warung Mbah Tjokro, Surabaya, dalam ajang Festival Proyeksi 2018 oleh Mahasiswa Komunikasi Unair
Festival Proyeksi 2018, Mahasiswa Komunikasi Unair Usung Kebhinnekaan Lewat Layar Tancap - festival-proyeksi-2018_20180319_223751.jpg
ist
Festival Proyeksi 2018, Mahasiswa Komunikasi Unair Usung Kebhinnekaan Lewat Layar Tancap - festival-proyeksi-2018_20180319_223850.jpg
ist
Festival Proyeksi 2018, Mahasiswa Komunikasi Unair Usung Kebhinnekaan Lewat Layar Tancap - festival-proyeksi-2018_20180319_224001.jpg
ist

SURYA.co.id | SURABAYA - Layar tancap, hiburan yang pernah populer di masa silam, kini hampir-hampir jarang terlihat. 

Mengobati kerinduan terhadap layar tancap, sekaligus memperingati HUT Komunikasi Unair (Hutkom) ke-30, mahasiswa Ilmu Komunikasi Fisip Unair menggelar Festival Proyeksi 2018.

Festival Proyeksi merupakan ajang tahunan yang digelar sebagai wadah apresiasi film karya anak bangsa sekaligus memberikan suguhan film terjangkau untuk warga Surabaya. 

Tujuan digelarnya ajang ini adalah mendekatkan diri ke masyarakat, komunitas, serta untuk menghidupkan kembali layar tancap di masyarakat. 

Festival Proyeksi 2018 digelar dalam sejumlah rangkaian. Pertama, mereka menggelar roadshow ke komunitas-komunitas film di Surabaya, Gresik, Sidoarjo, dan Malang, untuk menarik para sineas muda mengirimkan karya-karya terbaiknya. 

Hasilnya, sebanyak 190 film dari berbagai daerah terkumpul. 

Dari ratusan film itu, setelah proses kurasi, terpilih 23 film yang diputar di berbagai tempat di Surabaya selama 3 hari, yakni mulai 15 Maret hingga 17 Maret 2018. 

Film-film yang terpilih tersebut terbagi dalam lima program.

Program pertama digelar di Kampung Gubeng Airlangga II yang menarik minat warga sekitar 100 orang. Mereka datang dari beragam latar belakang. Mulai dari bocah SD hingga lansia berkumpul menyaksikan pemutaran film dalam program Interelasi Antara yang Terlihat dan Tak Terlihat.

Program kedua,  melakukan pemutaran di Yayasan Peduli Kanker Anak Indonesia (YPKAI) dengan mengusung konsep charity untuk anak-anak pengidap kanker.

Halaman
12
Editor: Eben Haezer Panca
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help