Surya/

Kesehatan

Jumlah Penderita Kanker Payudara Bertambah 500 Orang Setiap Tahun

Dokter Spesialis Bedah Payudara Rumah Sakit Onkologi Surabaya menyebut, setiap tahunnya muncul 500 hingga 600 pasien kanker payudara baru.

Jumlah Penderita Kanker Payudara Bertambah 500 Orang Setiap Tahun
ist
ilustrasi 

SURYA.co.id | SURABAYA - Dokter Spesialis Bedah Payudara Rumah Sakit Onkologi Surabaya, dr. Dwirani Rosmala, Sp.B menyebut, setiap tahun muncul 500 hingga 600 pasien kanker payudara baru.

Tetapi menurut Dwirani, meski mengalami peningkatan, kebanyakan pasien datang ketika kanker masih stadium awal.

"Berbeda sama dulu, kalau dulu 60-70% pasien yang datang itu selalu udah telat, kankernya sudah stadium akhir," tutur Dwirani ketika ditemui di Graha Prodia, Minggu (4/3/2018).

Ini merupakan sebuah kemajuan yang menggembirakan bagi Dwirani, karena menunjukkan bahwa masyarakat sudah memiliki kesadaran kanker payudara.

"Mereka udah mulai ngerti kalo kanker payudara itu nggak mendadak, dan pada awal malah nggak ada keluhan. Harusnya memang umur 20 tahun itu sudah aware, sudah melakukan SADARI (Periksa Payudara Sendiri)," katanya.

Selain SADARI, satu di antara cara lainnya adalah melakukan mamografi.

Mamografi dilakukan dengan menggunakan mesin rontgen untuk memeriksa payudara, jaringan, kelenjar, lemak, dan pembuluh darah di bawah kulit payudara.

Dengan mamografi, kanker yang sangat kecil bisa terlihat.

Di RS Onkologi Surabaya, kanker terkecil yang ditemui dengan mamografi berukuran 4 milimeter.

"Kalau segitu, itu tingkat kesembuhan 100 persen. Kadang nggak perlu kemoterapi, jadi kan lebih murah dibanding harus kemo. Nah kalo dibandingkan sama tanpa mamografi, biasanya ukuran benjolan lebih dari 2 sentimeter itu baru keraba," tuturnya.

Dwirani menyarankan para orang tua untuk mengajari anak perempuan mereka yang sedang tumbuh untuk melakukan SADARI.

Bahkan bila perlu, ibu turut melakukan SADARI pada anaknya.

"Ini biar ibu dan anak itu kenal dengan bentuk payudara anaknya. Jadi kalo kelihatan ada yang nggak beres, langsung ke dokter. Ada pasien yang masih remaja, kan pasien saya paling muda 16 tahun, itu dia tahu kalo ada benjolan, tapi dikira cuma apa. Nah kalo sudah diajari SADARI kan dia bisa ngerti mana yang normal mana yang enggak," jelasnya. 

Penulis: Delya Octovie
Editor: Eben Haezer Panca
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help