Citizen Reporter

Terbukti Lebih Praktis Belajar dengan Model

Jangan paksa orang asing menghafal kosakata kita. Pahami budaya mereka dan ikuti sebagai model untuk mengenalkan kosakata tertentu.

Terbukti Lebih Praktis Belajar dengan Model
pixabay.com

Setiap orang hidup harus terus belajar, tak peduli bagaimana keadaan, kondisi, dan pengalaman yang pernah diperoleh. Seseorang yang sudah pernah mengajar, tidak menjamin keberhasilan pembelajaran.

Pengajar harus tetap mau berproses. Artinya, pengajar harus terus belajar karena setiap pemelajar tidak dapat diperlakukan dengan metode dan strategi mengajar yang sama. Apalagi dalam mengajar Bahasa Indonesia bagi Penutur Asing (BIPA).

Salah satunya adalah pembelajaran BIPA di Universitas Ma Chung. Universitas Ma Chung kedatangan 10 pemelajar dari Universitas Tongren, Tiongkok, Rabu (28/2).

Mereka akan ada di Indonesia sampai Juni. Tujuan utama para mahasiswa dalam program pertukaran pelajar itu adalah untuk belajar bahasa Inggris.

Namun, mereka juga memperoleh pembelajaran BIPA sebanyak 2 SKS. Hal ini merupakan salah satu upaya Universitas Ma Chung guna mendukung internasionalisasi bahasa Indonesia yang sesuai dengan Undang-Undang RI nomor 24 tahun 2009.

Setiap pengajar harus memahami karakteristik mahasiswa sekaligus budaya asal mereka supaya bahasa Indonesia lebih muda diajarkan. Itu penting untuk mengajarkan bahasa Indonesia untuk level pemula. Karena bahasa Inggris tidak boleh digunakan secara penuh di dalam kelas, maka media atau gerak tubuh yang akan berperan.

Perlakuan mengajar BIPA pada mahasiswa Amerika, Jepang, ataupun Timor Leste berbeda dengan mahasiswa dari Tiongkok. Pada pertemuan pertama kelas BIPA dari Tongren (6/3), mereka belajar memahami kata /makan/.

Pengenalan itu harus diikuti pemodelan, yakni menggunakan sendok dan garpu. Namun, supaya mereka paham, sendok dan garpu diganti dengan mangkok dan sumpit.

Hampir semua mahasiswa antusias belajar. Wei Shali (Victoria)dan Suo Lang Yue (Maple) tampak paling bersemangat karena mereka juga aktif berbicara bahasa Inggris. Yang lain masih belum aktif berbicara, mengingat bahwa mereka berasal dari jurusan yang berbeda-beda.

Yang menyenangkan, mereka memberi respons positif jika materi dipahami. Karena belum bisa berbahasa Indonesia, mereka hanya berkata, “Ya ya ya.”

Maple sempat berkomentar tentang waktu yang digunakan untuk belajar. “Materi tentang kata ganti terlalu padat karena hanya disampaikan dalam waktu 90 menit,” kata Maple.

Selain itu, pada bagian perkenalan pada level pemula harus dipahami cara mereka berkenalan di negara asalnya. Jika dari Amerika Serikat, maka orang harus berjabat tangan ketika baru bertemu dan akan pergi.

Jika dari Jepang, mereka harus saling membungkuk. Jika dari Cina, maka ia harus berjabat tangan dan yang muda harus sedikit menundukkan kepala tanpa menggunakan kontak mata secara langsung.

Setelah memberi pemodelan sesuai dengan asal daerah, barulah pengajar dapat memberi pemodelan budaya di Indonesia. Hal itu memudahkan mereka mengomparasikan unsur budaya antarnegara. Itu berarti mereka tidak hanya belajar bahasa Indonesia, tetapi juga mengenal budaya Indonesia.

Yohanna Nirmalasari
Dosen Universitas Ma Chung

Editor: Endah Imawati
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help