Pilkada 2018

Ini Gagasan Cawagub Emil terkait Problem Kemacetan Surabaya - Sidoarjo

Cawagub Jatim nomor urut satu, Emil Elestianto Dardak, ingin pemasalahan kemacetan di Jawa Timur, terutama di Surabaya Sidoarjo segera terurai.

Ini Gagasan Cawagub Emil terkait Problem Kemacetan Surabaya - Sidoarjo
surya/fatimatuz zahro
Cawagub Jawa Timur nomor urut 1 Emil Elestianto Dardak mencoba KRL Surabaya-Sidoarjo, Selasa (13/3/2018). 

SURYA.CO.ID, SURABAYA - Cawagub Jawa Timur nomor urut satu, Emil Elestianto Dardak, ingin agar pemasalahan kemacetan di Jawa Timur terutama di Surabaya Sidoarjo bisa segera terurai.

Itu sebabnya, menurut pria yang juga pakar pengembangan wilaya ini daerah harus merencanakan lebih awal tentang pengembangan transportasi ranpa harus menungu macet.

"Jangan menunggu padat atau macet dulu baru memikirkan struktur ruang," ujar Emil usai ngopi pagi dengan sejumlah jurnalis dan aktifis, di Surabaya, Selasa (12/3/2018).

Menurut Emil dalam kapasitas dirinya yang kebetulan sempat mendalami bidang perencanaan dan pengembangan wilayah dia sengaja diminta cagub Khofifah indar Parawansa untuk mempertajam kaitan persoalan mobilitas perkotaan dengan perencanaan wilayah, terutama kota Surabaya.

"Memang Surabaya ini harus bisa menjadi lokomotif untuk membangun kawasan megapolitan yang berdaya saing, yang bisa mendorong sektor perdagangan dan jasa," ujar Emil yang sempat menumpangi langsung KRL di Surabaya - Sidoarjo itu.

Untuk mendapatkan gambaran jelas terkait soal mobilitas angkutan penumpang secara khusus Emilpun memilih kereta komuter, bukan kereta umum.

"Walaupun setelah saya mempelajari, banyak orang yang menggunakan kereta umum menuju Jombang, Malang dan beberapa lokasi lainnya daripada komuter. Saya ingin lebih memahami yang komuter terlebih dahulu," terang Emil.

Menurut doktor ekonomi pembangunan lulusan Jepang ini ada sedikit kendala mengenai kapasitas lambung kereta komuter, yang sebelumnya dari empat gerbong menjadi tiga gerbong.

Kereta ini menggunakan kereta yang sangat lama yang mungkin juga mempengaruhi minat masyarakat sulit beralih dari kendaraan pribadi beralih kepada transportasi umum.

"Justru teorinya karena Sidoarjo ini sangat dekat dengan Surabaya, akhirnya orang justru menggunakan kendaraan pribadi. Hal ini harus terus dikurangi, agar terbangun megapolitan yang mengusung mobilitas umum bukannya kendaraan pribadi," imbuh putra mantan wakil menteri Pekerjaan Umum Hermanto Dardak tersebut.

Penulis: Fatimatuz Zahro
Editor: Parmin
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help