Citizen Reporter

Kue Phong Antarkan Roh Pulang

Setahun sekali roh-roh datang ke bumi. Dalam tradisi Bun Sad Dean Sib di Thailand Selatan, supaya segera pulang, roh-roh itu diberi aneka kue.

Kue Phong Antarkan Roh Pulang
pixabay.com

Tradisi Bun Sad Dean Sib merupakan salah satu tradisi yang terkenal di Thailand Selatan, terutama di Nakhon Si Thammarat. Bun Sad Dean Sib dalam bahasa Thai berarti pahala pada bulan kesepuluh.

Tradisi itu adalah tradisi tahunan yang sangat besar dan dibangun untuk memberikan pahala kepada leluhur yang telah meninggal dunia. Tradisi itu dipraktikkan di India sebelum abad modern lalu Sang Buddha mengizinkan para orang yang beragama Buddha untuk diikuti.

Bun Sad Dean Sib dilakukan pada September. Bukankah September bulan kesembilan? Warga Nakhon Si Thammarat menyebutkan bulan pertama dalam tahun adalah Desember, bukan Januari. Jadi, September adalah bulan kesepuluh.

Mereka memiliki metode penghitungan bulan yang berbeda dan hanya digunakan di area tertentu. Selain itu, mereka juga percaya pada hari Rem 1 kam September adalah hari saat pintu neraka akan dibuka.

Pred adalah sejenis hantu yang dipenjara di neraka akan dibebaskan sementara untuk kembali ke dunia. Oleh karena itu, anak dan cucunya harus membawa makanan ke wihara untuk diberikan kepada biksu.

Tradisi itu sebagai usaha manusia untuk mengembalikan roh. Paling tidak, jika manusia mengingat pred, mereka akan menyadari dosa, pahala, serta hukuman Rem 1 kam disebut hari jemput roh leluhur dan Rem 15 kam disebut hari antar roh.

Jadi, pada hari Rem 15 kam masyarakat Nakhon Si Thammarak akan membawa banyak makanan yang dibentuk mirip candi kecil yang disebut mlab. Mlab itu terbuat dari makanan dan kue.

Semua makanan dan kue yang ada di dalam Mlab akan berguna bagi roh ketika mereka kembali ke neraka. Benda dalam wadah di bagian bawah adalah makanan kering, minuman, obat-obatan, lilin, dan dupa. Bagian paling atas dikemas dengan kue simbol tradisi Bun Sad Dean Sib.

Semua kue memiliki arti yang berbeda agar roh bisa menggunakan ketika pulang ke neraka. Kue phong digunakan sebagai perahu ketika roh pulang ke neraka. Kue la digunakan sebagai pakaian baru. Kue khaipla digunakan sebagai perhiasan karena bentuknya seperti gelang dan cincin. Kue disam digunakan sebagai uang.

Mlab dihiasi dengan bunga-bunga yang indah lalu dibawa ke wihara untuk direbut. Selain itu, masyarakat akan meletakkan makanan, kue, minumam, bunga, dan uang di pagar, bawah pohon, atau di pemakaman untuk dimakan roh yang tidak punya anak dan cucu.

Setelah itu, mlab yang dibawa akan direbut semua orang. Itu ibarat merebut pahala untuk diberikan kepada roh agar kembali.

Ketika tradisi itu selesai, roh akan kembali ke neraka. Dia menunggu kesempatan untuk datang ke dunia… tahun depan.

Vina
Penerima beasiswa S2 Sejarah di Univesitas Negeri Malang
Instagram @be_bea_beam

Editor: Endah Imawati
Ikuti kami di
KOMENTAR

berita POPULER

TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help