Berita Surabaya

Ratusan Warga Rame-rame Tagih Dana Hibah, 2 Tahun Tak Cair, Dewan Anggap Pemkot Takut Berlebihan

Pemkot Surabaya dinilai takut mencairkan dana hibah untuk masyarakat. Dua tahun berturut-turut, dana tersebut tak terserap.

Ratusan Warga Rame-rame Tagih Dana Hibah, 2 Tahun Tak Cair, Dewan Anggap Pemkot Takut Berlebihan
surya/wahjoe harjanto
Anggota DPRD Surabaya BF Sutadi

SURYA.co.id |SURABAYA - Pemkot Surabaya dinilai takut mencairkan dana hibah untuk masyarakat. Dua tahun berturut-turut, dana yang diberikan untuk pembangunan kampung dan kepentingan masyarakat itu terbengkalai. 

 Hampir semua RT di seluruh Surabaya mengeluhkan terbengkalainya dana itu. Bahkan perwakilan pemerintah di tingkat kampung itu kecewa lantaran mereka sudah diverifikasi dan membuka rekening Bank Jatim. 

 "Tapi tidak cair juga. Saya masih berharap pencairan dana hibah tahun ini," keluh salah satu Ketua RT di Kecamatan Gubeng, Kamis (1/3/2018)

Dua tahun berturut-turut Dana yang diambilkan dari APBD 2016 dan 2017 itu tak terserap. Akibatnya dana sisa anggaran  tahun lalu tak terserap. Salah satu yang terbesar adalah dana hibah.

Anggota DPRD dari Fraksi Gerindra BF Sutadi menyebut ada ketakutan berlebihan dari Pemkot dalam mengelola dana hibah ini.

Padahal dana tiap tahun paling sedikit Rp 150 miliar itu sangat dinantikan ribuan masyarakat Surabaya. 

"Ini ada apa. Bagaimana perjalanan pembangunan di kampung jika mengurus dana hibah begini tak beres," ucap Sutadi, Kamis (1/3/2018).

Diduga saat ini Pemkot Surabaya sangat hati-hati dalam pencairan dana hibah itu. Apalagi saat ini kejaksaan telah menangani persoalan hukum terkait dana hibah. Utamanya melalui jaring aspirasi masyarakat (jasmas) di lingkungan dewan. 

Karena sangat hati-hati itu sehingga tekesan ketakutan.

"Bahkan di Medsos sudah ramai tersiar kalau kejaksaan meningkatkan tahapan hukum dana hibah dari penyelidikan kini ke penyidikan. Namun ini urusan hukum lah. Bukan ranah saya," kata Sutadi. 

Halaman
123
Penulis: Nuraini Faiq
Editor: Parmin
Ikuti kami di
KOMENTAR

berita POPULER

TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help