Persona

Olivy Aprilia, 'Anak Punk' yang Kepincut Jadi Desainer

Olive yang mengaku ‘anak punk’ dan punya kebiasaan membuat rambutnya meriah dengan beragam warna itu serius menggeluti profesi sebagai desainer.

Olivy Aprilia, 'Anak Punk' yang Kepincut Jadi Desainer
surabaya.tribunnews.com/ahmad zaimul haq
Olivy Aprilia 

SURYA.co.id | SURABAYA - Siapa sangka, Olivy Aprilia yang mengaku ‘anak punk’ dan punya kebiasaan membuat rambutnya meriah dengan beragam warna itu serius menggeluti profesi sebagai desainer. Karya wanita yang dulunya juga tindikan ini bahkan sudah jadi langganan para selebriti papan atas ibukota.

Artis yang pertama kali menggunakan busana rancangannya adalah Maia Estianti. “Dia (Maia Estianti) waktu itu membaca profil saya di sebuah majalah. Dia lalu menghubungi saya dan minta dibuatkan baju,” katanya kepada Surya, Selasa (27/2).

Nama-nama lainnya misalnya Yuni Shara dan mendiang Julia Perez. Lulusan sekolah fashion Esmod Jakarta ini juga pernah membuatkan baju untuk pedangdut Via Vallen.

“Saya nggak membatasi diri pada genre tertentu. Asal klien bisa percaya pada karya saya pasti saya buatkan. Itu tidak mengganggu idealisme saya,” ucap perempuan yang akrab disapa Olive ini.

Toh baju dibuat Olive buat Via Vallen untuk tampil di acara Piala Presiden tak sepenuhnya ‘beraroma’ dangdut.

“Saya buatkan dengan unsur bola,” ungkap Olive yang sempat dapat beasiswa untuk memperdalam pengetahuan dunia fashion di London.

Kepercayaan menjadi syarat penting dirinya menerima atau menolak permintaan pesanan merancang busana.

“Chemistry harus ada dulu. Setelah ngobrol dia percaya sepenuhnya pada karya yang mau aku buat, ya sudah deal,” tuturnya.

Olive menyatakan dirinya tak harus bertemu dengan klien. Bahkan soal bahan baju dan warna bisa didiskusikan melalui telepon.

“Request bahan bisa saja. Tapi bahan tetap dari saya bukan dari klien,” imbuhnya.

Desainer kelahiran Kediri ini menegaskan dirinya siap membuatkan baju dalam bentuk apa pun sesuai keinginan klien. Syaratnya, baju itu tidak mengandung unsur bulu atau kulit binatang.

“Karena saya vegetarian. Saya tak ingin menyakiti binatang,” tandas Olive yang sejak kecil sudah hijrah ke Jakarta ini.

Menurut Olive, baju rancangannya juga cenderung ramah lingkungan. “Karya saya eco-fiendly. Saya nggak suka saat bikin baju bisa menimbulkan efek rusaknya lingkungan,” katanya.

Meski begitu dia mengaku sempat menerima pesanan dari klien asal Dubai di tahun 2006.

“Saya nggak tega ngerjainnya karena minta dari bahan bulu binatang. Jadi ya terpaksa saya tolak,” ujarnya. 

Penulis: Achmad Pramudito
Editor: Eben Haezer Panca
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help