Lakukan Ikrar Komitmen, Khofifah Indar Parawangsa Cerita tentang Gus Dur Jadi Presiden

Di hadapan relawannya, calon Gurbernur Jatim Khofifah Indar Parawangsa cerita saat dampingi Gus Dur jadi presiden

Lakukan Ikrar Komitmen, Khofifah Indar Parawangsa Cerita tentang Gus Dur Jadi Presiden
Cagub Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa saat memberi sambutan di doa bersama dan ikrar komitmen relawan di Asrama Haji, Senin (12/2/2018). 

SURYA.co.id | SURABAYA - Calon Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa bercerita saat dirinya menjadi tim pemenangan Gus Dur saat menjadi Presiden RI keempat. Cerita ini ia sampaikan di depan para jamaah muslimat, kader NU, fatayat, sejumlah kiai dan bu nyai yang hadir dalam forum doa bersama dan ikrar komitmen relawan di Asrama Haji Surabaya, Senin (12/2/2018).

Khofifah menuturkan cerita flash back beberapa tahun lalu saat KH Abdurrahman Wachid terpilih menjadi Presiden Republik Indonesia.

"Saat itu, saya diminta untuk menjadi tim pemenangan Gus Dur," kata Khofifah.

Mantan Menteri Sosial era Presiden Jokowi ini mengatakan ia diberi mandat Gus Dur untuk mengurus dan menyiapkan admimistrasi pendalonan Gus Dur menjadi presiden pukul 00.30 WIB.

"Beliau dawuh ke saya, mbak Khofifah, saya toling didaftarkan sebagai calon Presiden. Itu setengah satu pagi. Padahal jam tujuh itu sudah penutupan pendaftaran," sambungnya.

Ia yang saat itu masih ada di ruang sidang DPR RI kemudian mengirim pesan ke putri Gus Dur, Yeni Wahid. Dia meminta agar disiapkan tiga syarat kelengkapan berkas administrasi untuk pencalonan presiden.

"Saat itu yang dibutuhkan adalah surat pernyataan kelakuan baik yang ditandatangani kapolres, lalu surat pernyataan tidak sedang dalam kondisi utang ke negara yang ditandatangani kepala PTUN, dan tidak sedang dalam pidana, yang harus ditandatangani oleh kepala Pengadilan Negeri. Mbak Yeni menjawab, wah bagaimana mbak Khofifah ini sudah lewat tengah malam," kata Khofifah.

Jika ada orang yang paling bingung saat itu, dikatakan Khofifah adalah dirinya. Ia mencoba mengontak sejumlah orang juga tidak bisa membantu. Namun, menurutnya jika tidak karena kewalian Gus Dur, maka keajaiban di MPR tidak akan terjadi.

"Pukul setengah empat pagi saya sowan ke Gus Dur. Saya bilang, Gus Dur, saya nyuwun taoak astho (tanda tangan), saya bacakan ya Gus Dur, nama KH Abdur Rahman Wahid, alamat Ciganjur, menyatakan saya berkelakuan baik. Nggih, jawab Gus Dur. Lalu saya bilang, masih ada lagi Gus Dur, surat lagi, saya bacakan nggih Gus Dur, saya KH Abdurrahman Wahid tidak sedang dalam pidana, ditandatangi sendiri. Begitu juga dengan surat yang terakhir," kata Khofifah.

Proses pun terus berjalan, wanita yang juga Menteri Pemberdayaan Perempuan era Gus Dur itu mengatakan, sekitar pukul 04.30 WIB, saat itu ia langsung ke Ketua Fraksi MPR untuk menyerahkan berkas Gus Dur akan mencalonkan diri sebagai presiden.

Halaman
123
Penulis: Fatimatuz Zahro
Editor: irwan sy
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help