Citizen Reporter

Salah Keluarga kalau Tak Suka Baca

Jika biasanya harga buku dituding mahal sehingga minat baca turun, sekarang seharusnya tidak. Keluargalah yang bertanggung jawab.

Salah Keluarga kalau Tak Suka Baca
ist

Masalah klasik yang ikut berperan menghalangi minat baca adalah alasan harga buku mahal. Akses buku berkualitas menjadi sulit dijangkau.

Masalah seperti itu sebenarnya sudah dicarikan jalan keluar. Pemerintah dan para pegiat literasi berupaya memudahkan akses bahan bacaan lewat berbagai cara.

Salah satunya adalah peluncuran aplikasi iPusnas, sebuah perpustakaan online yang bisa diunduh di smartphone maupun komputer dengan mudah. Perpustakaan online itu menyediakan ribuan buku untuk dinikmati secara gratis penggunanya.

Dalam diskusi tentang buku dan bahan bacaan, ada banyak yang dibahas. Peserta Buka Buku Bikin Semangat bersama Najwa Shihab di Toko Buku Gramedia Basuki Rahmad Malang, Jumat (9/2), terungkap banyak cara. Acara itu dihelat bersama Komunitas Mata Kita untuk saling berbagi hal positif, berdiskusi, dan berjejaring.

Dalam acara itu, Najwa Shibab membagikan pengalamannya sebagai Duta Baca Indonesia. Berdasarkan data-data statistik, minat baca masyarakat Indonesia tergolong rendah. Bahkan menurut survei pihak UNESCO, di antara 1.000 orang Indonesia, hanya satu yang suka membaca. Namun, menurut Nana, hal itu tidak sepenuhnya benar.

“Semakin ke sini, saya makin sering bertemu dengan para pegiat literasi dan penggerak perpustakaan daerah, berkunjung ke sekolah-sekolah, dan sebagainya. Saya menemukan semangat yang lain. Tampaknya tantangan kita bukan karena orang tidak suka baca, tetapi bahan bacaan yang berkualitas tidak cukup banyak tersedia,” kata Najwa.

Saat ini banyak ditemui pegiat literasi. Nyatanya masalah yang sebenarnya dihadapi adalah terbatasnya akses bahan bacaan yang berkualitas. Memang, harga buku sekarang tidak selalru terjangkau.
Meski memang, hal itu menjadi “mudah” bagi masyakarat dengan infrastruktur yang memadai.

Sementara bagi sebagian masyarakat dengan infrastruktur kurang, pemerintah bekerja sama dengan PT Pos Indonesia mengadakan program kirim buku gratis ke seluruh penjuru negeri setiap tanggal 17.

Inisiatif selanjutnya ialah berupaya untuk mengajak masyarakat secara bersama-sama peduli pada gerakan literasi. Dalam hal ini, khususnya para orang tua yang memegang peran penting dalam perilaku anak-anak.

“Selama ini, orang tua cenderung beranggapan bahwa selama anak sudah 'bisa' membaca maka selesailah tugasnya. Padahal, 'bisa' membaca dan 'suka' membaca adalah dua hal yang berbeda,” ungkapnya.

Untuk itu, para orang tua diharapkan mulai membudayakan anak untuk tidak sekadar bisa mengeja tetapi juga menyukai aktivitas membaca.

“Keluarga adalah tempat pertama untuk menumbuhkan minat baca,” pesan Najwa.

Windy A Alicia Putri
Mahasiswa Universitas Negeri Malang

Editor: Endah Imawati
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help