Berita Surabaya

Keselamatan dan Kesehatan Kerja Masih Sulit Diterapkan

Pemerintah saat ini terus mendorong perusahaan untuk menerapkan Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3). Bahkan membuat undang-undang K3

Keselamatan dan Kesehatan Kerja Masih Sulit Diterapkan
surabaya.tribunnews.com/sulvi sofiana
Seminar “Behaviour Based Safety” di Graha Dewaruci, Politeknik Perkapalan Negeri Surabaya (PPNS), Senin (12/11/2017) 

SURYA.co.id | SURABAYA - Pemerintah saat ini terus mendorong perusahaan untuk menerapkan Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3). Bahkan membuat undang-undang mengenai K3, hingga saat ini K3 masih sangat sulit dibudayakan di tempat kerja.

Kepala Disnakertrans Provinsi Jawa Timur ini, Setiajit mengungkapkan angka kecelakaan kerja saat ini masih relatif tinggi. Pasalnya, pekerja dan perusahaan belum berperilaku dan berfikir K3 ketika bekerja.

“Contohnya, masih banyak operator boiler yang harusnya lulusan minimal D3, diisi oleh lulusan SMA bahkan SD. Nah, ini yang sering menjadikan pekerja tersebut memiliki resiko kecelakaan kerja lebih tinggi,” ungkapnya dalam Seminar “Behaviour Based Safety” di Graha Dewaruci, Politeknik Perkapalan Negeri Surabaya (PPNS), Senin (12/11/2017).

Ia juga melihat banyak pekerjaan yang dijalankan dengan mengabaikan Standar Operasional Prosedur (SOP), bekerja tidak sesuai kompetensi, kebiasaan bekerja yang salah dan merasa berpengalaman.

“K3 selalu dianggap cost (biaya). Harus diubah paradigma tersebut. K3 harus dianggap kebutuhan dan investasi,” terangnya.

Direktur PPNS, Eko Julianto menambahkan budaya K3 harus dibangun sedini mungkin. Untuk itu PPNS berperan menciptakan lulusan K3 demi terpenuhinya kebutuhan satu perusahaan minimal memiliki satu ahli K3.

Ahli K3 akan membantu para perusahaan, industri, dan masyarakat luas dalam menciptakan lingkungan yang aman.

“K3 masih belum jadi budaya. Seringkali kita lihat banyak pengendara motor tanpa helm dan tidak mematuhi lalu lintas. Kalau ingin K3 jadi budaya, K3 harus dikenalkan dan dibiasakan dari kecil. Bisa diajarkan dari usia TK dan SD,” ungkap Eko.

Acara penutup rangkaian acara di bulan K3 Nasional Tahun 2018 yang dipusatkan di Jawa Timur ini dihadiri lebih dari 500 peserta. Mulai dari pengawas, pelaku industri, dan mahasiswa dari berbagai kampus hingga beberapa praktisi K3.

Penulis: Sulvi Sofiana
Editor: Eben Haezer Panca
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help