Surya/

Lapor Cak

VIDEO - Gerbang Masuk Kota Surabaya lewat Rungkut Tidak Terawat

Memasuki kawasan Kota Surabaya lewat jalur bundaran Waru pastinya disambut dengan gemerlap Surabaya.

VIDEO - Gerbang Masuk Kota Surabaya lewat Rungkut Tidak Terawat
surya/habibur rohman
Gapura tanda batas Surabaya dengan Sidoarjo di kawasan Pondok Tjandra catnya mulai pudar. 

SURYA.co.id | SURABAYA - Memasuki kawasan Kota Surabaya lewat jalur bundaran Waru pastinya disambut dengan gemerlap Surabaya. Kesan Sparkling Surabaya terlihat pada 3 penanda masuk Kota Surabaya.

Hal berbeda nampak saat memasuki Surabaya lewat Rungkut Menanggal. Area yang kerap dijadikan jalan pengunjung Surabaya setelah dari Bandara Juanda tersebut terlihat usang.

Gerbang bertuliskan "Terimakasih dan Selamat Jalan, Anda Menuju Kota Surabaya" itu tampak berkarat. Mulai dari atap hingga tulisan tersebut terlihat berkarat.

Pengendara taksi online, Rahmat Santoso (39) mengungkapkan tak jarang penumpangnya bertanya apakah kawasan Rungkut Menanggal sudah masuk Kota Surabaya atau belum.

"Biasanya penumpang dari MC Donalds Juanda situ yang naik, mau ke Surabaya lewat Rungkut. Gitu ya mereka heran kok masih ada gerbang berkarat, nggak Surabaya banget katanya,"jelasnya ketika ditemui SURYA.co.id, Minggu (11/2/2018).

Selain pintu masuk yang berkaray, kawasan tersebut terkenal akan kepadatan volume kendaraan saat pagi dan sore hari. Dan meskipun kemacetan cukup parah tidak nampak petugas polisi yang mengurainya.

Jumira (44) pedagang koran mengungkapkan sejak 1997 ia pindah ke Wadung Asri, Waru hingga sekarang belum ada perbaikan gapura tersebut. Padahal wilayahnya merupakan perbatasan dengan Rungkut Menanggal.

"Belum pernah ada perbaikan, kadi ya seperti nggak ada batasnya Sidoarjo dan Surabaya,"urainya.

Ia juga mengungkapkan biasanya polisi cepak, sebutan warga kampung yang mengatur lalu lintas tiap jam macet. Kadang juga ada polisi saat pagi hari sampai jam 10.00.

"Kawasan sini memang rawan macet, apalagi kalau ketemu pertigaan kampung,"ujarnya

Berikut videonya:

Penulis: Sulvi Sofiana
Editor: Parmin
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help