Citizen Reporter

Kulit Telur Ini untuk Menyimpan Kenangan

Yang berkesan itu yang disimpan. Kulit telur bisa juga dipakai untuk menyimpan kenangan sehingga menjadi lebih menarik.

Kulit Telur Ini untuk Menyimpan Kenangan
ist

Belajar kreatif itu tidak harus mahal. Hal ini bisa dilakukan dengan memanfaatkan benda-benda yang sudah tidak terpakai, menjadi berbagai karya yang indah.

Itu seperti yang dilakukan para siswa kelas 1E SD Muhammadiyah 4 Pucang Surabaya (Mudipat), Senin (5/2/2018). Dengan semangat dan antusias, mereka membuat pigura dari kertas bufalo dengan hiasan dari kulit telur.

Sebelumnya, siswa diberi anjuran untuk membawa bahan yang diperlukan dari rumah. Bahan-bahannya antara lain: kulit telur yang sudah dibersihkan dan diberi warna dengan cat air, kertas bufalo berwarna, lem, pensil, dan penggaris.

Cara membuatnya sangat sederhana dan mudah. Dengan sabar Panca Indrayani, guru kelas 1E, membimbing dan mengarahkan tahap demi tahap membuat bingkai. Tidak lupa Bu Yani-panggilan akrabnya, memberi contoh supaya siswa dengan cepat dan mudah mempraktikkan yang diajarkan.

“Mula-mula kertas bufalo diberi garis tiap tepinya, kira-kira 5 cm. Kemudian kulit telur warni-warni dibentuk menjadi bagian kecil-kecil, dengan beraneka ragam bentuk,” katanya dengan bersemangat.

Setiap bagian itu kemudian diberi lem dan ditempel di seluruh tepi kertas bufalo hingga penuh. Maka jadilah bingkai pigora dengan hiasan kulit telur yang indah dan menarik.

Semuanya tampak serius praktik membuat bingkai. Salah satunya Thicfah Raditya Zahir. Dia senang dan terkesan dengan kegiatan itu.

“Senang, sebab mamaku suka buat roti. Jadi aku punya banyak kulit telur. Daripada telurnya dibuang, lebih baik dibuat kayak gini,” ungkapnya dengan tersenyum.

Kegiatan itu merupakan bagian dari materi subtema pengalaman yang berkesan. Setelah pigura dengan hiasan kulit telur jadi, siswa diajak membuat puisi. Topiknya tentang pengalaman yang berkesan bersama keluarga, seperti pengalaman yang berkesan bersama ayah, mama, adik, dan kakak.

Rasyifa Tisya membuat puisi tentang bunda. “Aku sayang bunda, ia yang mengandung dan merawatku dari kecil. Setiap pagi menyiapkan bekal untukku. Aku tak bisa membalas jasamu. Bunda aku sayang kamu,” kata Rasyifa saat membaca penggalan puisi.

Lebih lanjut, guru yang alumnus Universitas Muhammadiyah Surabaya itu menjelaskan, selain siswa bisa membuat pigura dan mengungkapkan pengalaman yang berkesan, yang lebih penting adalah adanya unsur cinta pada lingkungan. Itu ditandai dengan memanfaatkan barang-barang yang sudah tidak terpakai menjadi barang yang berguna.

“Kegiatan ini bisa juga sebagai media untuk mengajarkan kepada siswa akan pentingnya dan manfaat dari daur ulang,” kata jelasnya.

Muhimmatul Azizah
Guru SD Muhammadiyah 4 Pucang Surabaya

Editor: Endah Imawati
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help