Citizen Reporter

Ini Cara Santri Berdakwah

Lulusan pesantren diharapkan juga pandai dalam mengomunikasikan ilmunya kepada masyarakat, khususnya melalui tulisan-tulisan di media.

Ini Cara Santri Berdakwah
ist

Hanya ada dua orang besar di dunia ini, yaitu orang yang menulis dan orang yang ditulis. Jadi, menulislah atau menjadi orang yang ditulis.

Kalimat penyemangat itu disampaikan Fahrizal Ishaq, Kepala Madrasah Aliyah Bilingual. Itu disampaikan saat membuka acara diklat jurnalistik bagi anggota baru majalah pesantren, Imtiyaz, Minggu (28/1/2018) di gedung Tahfidz, Pondok Pesantren Al Amanah Junwangi, Krian, Sidoarjo.

“Jika kita bukan termasuk orang yang ditulis, maka menulislah,” jelas Fahrizal yang juga menjadi Pemimpin Umum Majalah Imtiyaz.

Semboyan itu selalu didengungkan Fahrizal dan tim redaksi majalah Imtiyaz untuk membakar semangat dan membuka kesadaran para santri tentang pentingnya menulis, baik di media cetak maupun online. Jebolan Pondok Pesantren Gontor ini menjelaskan, kemampuan menulis diyakini sebagai bekal penting bagi para santri.

Di era teknologi dan komunikasi saat ini, kemampuan menulis sangat dibutuhkan. Banyaknya orang menulis dengan kepentingan-kepentingan politis, apalagi tidak bertanggung jawab, harus diimbangi dengan tulisan-tulisan yang segar dan mendidik.

“Menulis adalah bagian dari komunikasi melalui media. Maka dengan komunikasi yang intens dan berkualitas, kita akan mudah berjejaring dan memberikan manfaat kepada orang lain. Inilah kunci kesuksesan seseorang,” jelas lulusan sarjana Studi Islam dan Bahasa Arab, Universitas Kuftaro Syria itu.

Fahrizal berharap, ke depan lulusan pesantren tidak hanya memiliki keahlian dalam bidang agama. Mereka diharapkan juga pandai dalam mengomunikasikan ilmunya kepada masyarakat, khususnya melalui tulisan-tulisan di media.

“Menulis adalah salah satu cara terbaik dari dakwah,” tegas pemilik gelar Magister Filsafat Islam, UIN Sunan Ampel Surabaya itu.

Spirit inilah yang menjiwai terbentuknya majalah Imtiyaz pada awal Februari 2011. Majalah terbit tiga kali setahun.

Sebagian besar tulisan yang ada dalam majalah Imtiyaz adalah tulisan para santri, seperti rubrik berita, cerpen, puisi, hingga artikel, atau opini. Selebihnya adalah tulisan dari para ustadz dan pimpinan pondok pesantren KH Nurcholish Misbah yang dikenal produktif menulis dan telah menerbitkan lebih dari lima buku berbasis agama.

“Majalah ini tidak hanya sebagai sarana komunikasi antara pesantren dengan masyarakat, tetapi juga sebagai laboratorium para santri,” tegas Fahrizal.

Sementara ketua panitia diklat sekaligus salah satu pembina Majalah Imtiyaz, Eka Apriliani mengatakan, tak lama lagi penerbitan majalah Imtiyaz akan diterbitkan dalam bentuk online.

“Meski begitu, penerbitan majalah online tidak menghilangkan penerbitan dalam bentuk cetak atau paper,” pungkasnya.

Muhammad Bahruddin
Dosen Media dan Komunikasi
Institut Bisnis dan Informatika STIKOM Surabaya

Editor: Endah Imawati
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

berita POPULER

TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help