Berita Gresik

Proyek Pengadaan Mabeler untuk Wisma Atlet, Dirut PT TM Diduga Tertipu Miliaran Rupiah  

Dugaan penipuan pada Maret 2017 sedikit terungkap dari keterangan Saksi Oei Ronny Wijaya Direktur Utama (Dirut) PT TM dalam persidangan di PN Gresik.

Proyek Pengadaan Mabeler untuk Wisma Atlet, Dirut PT TM Diduga Tertipu Miliaran Rupiah  
surya/sugiyono
DUGAAN PENIPUAN - Oei Ronny Wijaya Dirut PT TM usai menjalani sidang sebagai saksi atas dugaan penipuan terhadap perusahaannya senilai Rp 1 miliar, Selasa (6/2/2018). 

SURYA.co.id | GRESIK –  Ramlan Junaedi Nainggolan (56), warga Kelurahan Pondok Rangon Kecamatan Cipayung Jakarta Timur dan Djoko Siswoyuwono (53), warga Kelurahan Sumurbatu Kecamatan Cempaka Putih Jakarta Pusat  menjalani persidangan di Pengadilan Negeri Gresik atas dugaan penipuan.

Kedunya diduga melakukan penipuan terkait pengadaan mabeler wisma atlet di PT Tjakrindo Mas (TM), Jl Raya Desa Kepatihan, Kecamatan Menganti Gresik senilai Rp 1 miliar.

Dugaan penipuan yang terjadi pada Maret 2017 sedikit terungkap ketika keterangan Saksi Oei Ronny Wijaya Direktur Utama (Dirut) PT TM dalam persidangan di PN Gresik.

Awalnya ketika kedua terdakwa mengaku mendapatkan proyek mebeler wisma atlet senilai Rp 98 Miliar dan Rp 93 miliar.

Dari nilai proyek itu, terdakwa Djoko Siswoyuwono dan Ramlan Junaedi N yang dikenalkan oleh oknum pemenang tander proyek pengadaan mabeler dari PT Putra Ratu Mahkota (PRM).

Dari perkenalan itu, kedua terdakwa membuat perjanjian bahwa dijanjikan akan mendapatkan pengadaan mabeler.

Dari nilai proyek yang puluhan miliar itu akhirnya Ronny Wijayamenyetujui persetujuan kontrak pengadaan mabeler.

Dari persetujuan itu, pihak Ronny Wijaya mengeluarkan uang operasional kepada oknum di PT PRM sebesar Rp 200 juta, kemudian menstranfer Rp 50 juta dan kepada kedua tersangka sebesar Rp 750 juta secara kontan.  

Dari total uang yang sudah dikeluarkan itu, ternyata pihak PT TM tidak mendapatkan pengadaan mabeler, seperti dijanjikan, sehingga dilaporkan kepada Polsek Menganti dan berhasil menangkap kedua terdakwa di wilayah Jakarta.

“Sederhana saja, saya ada order untuk pengadaan tapi ternyata tidak jadi. Dan saya sudah mengeluarkan uang untuk operasional. Intinya saya tertipu,” kata Ronny Wijaya dalam kesaksiannya di hadapan majelis hakim PN Gresik Putu Mahendra, dan Jaksa Penuntut Umum (JPU) Dwi Sucipto, Selasa (6/2/2018).

Namun, Oktavianus Rasubala and Partners bersama Muhamad Kamal Idris, kuasa hukum kedua terdakwa mengaku keberatan jika ada unsur penipuan, sebab sebelum ada pencairan uang sebesar itu, kedua terdakwa membuat kesepakatan di Kantor PT TM, namun karena kurang teliti sehingga pihak Dirut PT TM menandatangani kesepakatan antara pihak pertama dan pihak kedua.

 “Bagaimana ini bisa menjadi pidana umum, seharusnya kasus perdata. Sebab klien saya ini dikenalkan orang  oknum PT Putra Ratu Mahkota selaku pemenang pengadaan mabeler. Kalau tidak dikenalkan ya tidak terjadi. Seharusnya saksi kunci itu juga dihadirkan,” kata Oktavianus, usai persidangan.

Namun, saksi dari oknum PT RRM baru sekali dipanggil sebagai saksi dan tidak hadir. Sehingga sidang perkara yang terjadi pada Maret 2017 ini akan dilanjutkan Jumat (9/2/2018).  

Penulis: Sugiyono
Editor: Parmin
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help