Surya/

Citizen Reporter

Ini Bocoran dari Penerbit agar Naskah Dibaca

Jangan main-main dengan paragraf pertama. Buatlah pembaca jatuh cinta pada paragraf pertama supaya dia mau terus membaca hingga tuntas.

Ini Bocoran dari Penerbit agar Naskah Dibaca
ist
Christina M Udiani paling kanan saat di Frankfurt. 

Pikat pembaca dengan paragraf pertama. Pandangan pertama dalam teks itu penting karena menjadi kunci pembuka untuk menelusuri teks-teks berikutnya.

Jika pada paragraf pertama tidak memikat, jangan heran jika tidak ada yang mau membaca karya yang sudah dibuat sepenuh hati. Editor pada penerbitan sering menjumpai itu.

Penerbit sebagai bagian dari literasi harus menemukan dan menjadikan karya penting menjadi menarik. Itu yang menjadi salah satu pokok bicaraan saat diadakan diskusi bersama editor senior penerbit Kepustakaan Populer Gramedia (KPG).

Kelas Pemikiran dan Pendidikan Politik (KP3) Seri ke-7 menghadirkan Christina M Udiani, Editor Senior KPG. Perbincangan bertajuk Setelah 2 Dekade KPG: Sebuah Pengakuan dari Dalam berlangsung pada 31 Desember 2017 di Kafe Omah Kitir, Kota Batu. Christina M Udiani adalah arek Batu yang sedang pulang kampung.

Ada enam peserta yang ikut dalam diskusi. Tidak perlu banyak sebab mementingkan kedalaman substansi dari lalu lintas diskusi. Mereka terdiri atas jurnalis, sastrawan, antropolog, peneliti sejarah, dan dua guru yang pernah bertugas di Aceh dan Papua.

Suasananya mengalir tanpa jeda. Mendapat bocoran tentang cara menulis buku dari penerbit besar seperti KPG adalah keuntungan tersendiri. Itu menjadi sebuah kesempatan istimewa untuk mengulik-ulik lebih dalam mengenai pengalaman, cara pandang, dan visi petinggi KPG bagi para pembacanya.

Pada masa awal pendirian KPG, 1 Juni 1996, kondisi penerbitan Indonesia menunjukkan banyak bacaan bagus namun tidak dibaca banyak orang. Kondisi itu memicu pendiri KPG, wartawan kawakan Parakitri T Simbolon, untuk membuat sebuah penerbitan yang mengajak masyarakat untuk melek huruf, ilmu pengetahuan, dan teknologi.

Buku-buku Leila Chudori seperti novel Pulang dan Laut Bercerita, Iksaka Banu dengan fiksi sejarahnya Semua untuk Hindia, Peter Carey melalui Kuasa Ramalan: Pangeran Diponegoro dan Akhir Tatanan Lama di Jawa 1785-1855, dan Ilmuwan Humaniora Ariel Heryanto dengan kajian pop Identitas dan Kenikmatan: Politik Budaya Layar Indonesia merupakan beberapa nama dan judul buku yang dikelola secara sukses oleh KPG bagi literasi Indonesia.

Nama KPG menjadi refleksi dari tantangan literasi di republik ini. Kepustakaan bukan perpustakaan. Banyak orang sering salah menyebut dengan perpustakaan. Makna kepustakaan jelas merupakan ‘literacy” (literasi).

Berikutnya dibubuhi kata populer. Banyak bacaan bagus namun mengapa banyak orang lebih suka membaca hal-hal yang disajikan secara ringan. Sebaliknya buku bagus dan berbobot tidak dibaca orang.

“Populer bagi KPG ialah bacaan itu harus mudah dipahami pembaca umum. Bentuk bacaan paling ideal bagi terbitan populer ialah pertama berwujud komik. Kedua, bergambar. Ketiga, kalaupun teks maka teks itu harus terbaca,” ungkap Christina tegas.

Ia menuturkan, tidak sedikit naskah yang ditulis seorang ahli tersusun dalam bahasa yang rumit dan struktur kalimat kacau.

“Kata-katanya bersayap minus makna dan dipenuhi jargon sloganistik. Itu akan membuat calon pembaca mundur duluan. Paragraf pertama sudah tidak berkesan untuk dibaca,” kata Christina.

FX Domini BB Hera
Mahasiswa Ilmu Sejarah
Universitas Gadjah Mada Yogyakarta

Editor: Endah Imawati
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help