Kesehatan

Merencanakan dan Menjalankan Diet Tinggi Protein Bagi Pekerja Lapangan

Bagi para pekerja lapangan, mengatur pola makan dan diet tidaklah gampang. Padahal hal itu penting dilakukan. Begini kata pakarnya...

Merencanakan dan Menjalankan Diet Tinggi Protein Bagi Pekerja Lapangan
ist
ilustrasi 

SURYA.co.id | SURABAYA - Pekerjaan Sutriono (38) memang tak bisa membuatnya santai. Setiap hari, bahkan ketika banyak orang lain sedang libur, Sutriono punya tanggungjawab untuk standby di gudang perusahaan.

Sebagai maintenance gudang, dia harus mengecek keluar masuknya alat berat yang disewa perusahaan lain. Karena sering standby di gudang perusahaan, pola makan Sutriono tak teratur.

“Saya biasanya baru sarapan setelah jam 10. Itupun hanya mie instan, roti atau nasi goreng,” paparnya.

Faktor pekerjaan pula, yang membuatnya rata-rata hanya makan dua kali sehari. Jika lapar, dia lebih suka makan camilan dan kopi. Baginya, makan hanya sekadar mengenyangkan perut dan lebih fokus pada pekerjaan yang dilakukannnya.

Pola makan ini sudah dilakukannya selama lebih dari 10 tahun. Meski dia sudah terbiasa dengan pola seperti ini, tapi tak jarang dia mengeluh gampang capek dan penyakit maagnya kambuh.

“Ini karena pola makan yang tak tepat. Saya berusaha mengubahnya sedikit demi sedikit, dimana sarapan lebih pagi dan komposisi gizi lebih lengkap. Mau mencoba mengatur komposisi makanan atau diet, tapi karena kerja di lapangan, pola makan sulit teratur,” terangnya.

Mengenai hal ini, ahli gizi dari Rawat Sehat, Hendarmoko Budi Prasetijo menjelaskan, pekerja lapangan dan kantor dengan beban stres tinggi tetap membutuhkan diet makanan, agar kebutuhan gizi tetap terpenuhi.

“Diet adalah aturan pola makan untuk mencapai derajat kesehatan optimal. Tentunya, diet harus memenuhi unsur gizi makro dan mikro, mulai karbohidrat, vitamin, mineral, protein dan lemak,” terang pria yang juga kepala divisi katering Rawat Sehat ini.

Pada pekerja lapangan dan kantor yang punya stres tinggi, diet yang dilakukan menggunakan rumus TETP (Tinggi Energi Tinggi Protein).

Maksudnya, faktor aktivitas dan stress tinggi harus diimbangi dengan asupan makanan yang tinggi protein. Untuk itu, jumlah takaran lauk hewani dan nabati harus meningkat sesuai beban stress yang dialami.

Halaman
123
Tags
diet
Penulis: Sudharma Adi
Editor: Eben Haezer Panca
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

berita POPULER

TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help