Lapor Cak

RW 7 Kelurahan Lontar Langganan Banjir, Dewan Minta Pemkot Buatkan Waduk

"Kasihan warga di kampung ini kalau hujan datang, jalan gang kampung beralih fungsi sebagai saluran drainase," kata AVinsensius Awey.

RW 7 Kelurahan Lontar Langganan Banjir, Dewan Minta Pemkot Buatkan Waduk
surya/fatimatuz zahro
Vinsensius Awey 

SURYA.CO.ID | SURABAYA - Anggota DPRD Kota Surabaya Vinsensius Awey meminta agar Pemkot segera membereskan masalah kampung langganan banjir di RW 7 Kelurahan Lontar, Kecamatan Sambikerep.

"Kasihan warga di kampung ini kalau hujan datang, jalan gang kampung beralih fungsi bukan sebagai jalan, melainkan sebagai saluran drainase, karena tidak nampak sudah fungsi jalannya yang ada air semua," kata Awey, Minggu (21/1/2018).

Lebih lanjut ia menyebutkan kasus anak hanyut juga sempat terjadi di sini, lantaran tidak ada pembatas yang jelas saat banjir, antara jalan dan jalur sungai.

Hal tersebut cukup membahayakan warga. Ia meminta agar Pemkot tidak menunggu ada korban nyawa baru melakukan penanganan yang serius untul kampung ini.

"Saya bahkan sudah bantu komunikasikan ke kepala Dinas PU Bina Marga dan Pematusan, namun tidak direspons, hanya dibaca. Akhirnya saya coba komunikasi dengan kepala dinas kawasan pemukiman, dan ternyata dia cek kondisi lapangan," kata Awey.

Hal tersebut seharusnya menjadi evaluasi bagi Pemkot agar perhatian dan sentuhan pembangunan tidak hanya dilakukan di tengah kota. Melainkan juga di pinggiran Surabaya, seperti di kawasan barat Lontar, ini. Jika Pemkot mengatakan tidak ada genanganan, justru warga di sini setiap hujan was-was banjir datang.

"Kalau saya menyarankan, buatlah waduk atau bozem mini yang bisa menggunakan waduk di Manukan Ranu. Agar paling tidak air bisa tertampung di sana dulu sebelum mengarah ke bawah di kampung ini, menggunakan prinsip gravitasi," kata politisi Partai Nasdem itu.

Jika waduk berfungsi maka debit air yang mengalir di sungai dekat perkampungan warga tersebut bisa berkurang.

Serta ia juga meminta ada pembuatan tanggul yang bisa meninggikan batas yang jelas antara sungai dengan permukiman.

"Tanggul yang tinggi, sekitar satu atau dua meter. Agar warga tak khawatir lagi akan ada serangan banjir. Kasihan, sampai masuk ke rumah, mereka ngungsi kemana karena sekampung juga banjir," ucapnya.

Selengkapnya lihat tayang video berikut:

Penulis: Fatimatuz Zahro
Editor: Parmin
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help