Surya/

Sosok

Izza Dinalhaque: Kangen dan Risih

Izza Dinalhaque: Ada perasaan kangen dengan keramahan warga Indonesia. Apalagi jika bertemu keluarga dan teman dekat

Izza Dinalhaque: Kangen dan Risih
SURYA Online/Sulvi Sofiana
Izza Dinalhaque 

SURYA.co.id - Memakai kerudung putih bercorak bunga, Izza Dinalhaque (24) tampak membaur dengan beberapa kenalannya. Sudah setahun terakhir warga Ketintang ini kembali bersosialisasi di Indonesia setelah menghabiskan studi S1 jurusan Bio Sains di Nagoya University,Jepang.

Ia mengungkapkan ada perasaan kangen dengan keramahan warga Indonesia. Apalagi jika bertemu keluarga dan teman dekat. Nuansa yang jauh berbeda ia rasakan saat tinggal di Jepang dengan kehidupan mayoritas penduduk yang individualis.

"Kangen sih, tapi risih juga di sini banyak yang tanya hal yang privasi,"ungkap wanita yang sedang merencanakan studi lanjut S2 ini.

Menurutnya, keramahan masyarakat kadang berlebihan jika sudah menanyakan alasannya memilih jalan hidup. Mulai dari pekerjaan hingga pasangan kadang tak luput dari pertanyaan. Berbeda dengan di Jepang yang cenderung cuek bahkan tidak saling sapa.

"Kalau keluarga yang tanya masih nyaman, tetapi kalau sekedar kenalan atau lingkungan paati bikin risih. Karena menurut saya itu privasi,"ujar alumnus SMA Al Hikmah.

Hal inilah yang menurutnya selalu terasa saat ia pulang ke tanah air. Rasa rindu saat jauh dengan keluarga kadang harus bercampur risih karena pertanyaan mendetail masyarakat akan rencana hidupnya.

Untuk menghabiskan waktu sambil beradaptasi dengan Surabaya kembali, Icha, sapaan akrabnya memilih menjadi tutor bahasa Jepang secara online. Melalui start up buatan seniornya, ia menjadi tutor bahasa sehari-hari di Jepang untuk warga Indonesia di Jepang ataupun di Indonesia melalui skype.

"Saya kuliah jurusan biologi dan pakai bahasa Inggris. Tetapi beasiawa saya tidak cukup, jadi saya sambil kerja. Di sana belajar bahasa jepang sehari-hari,"urainya.

Wanita kelahiran Surabaya, 12 Mei 1993 ini mengungkapkan aaat ini memiliki 3 binaan yang sedang mengikuti kursus padanya. Iapun dibayar perjamnya dengan mata uang Jepang.

"Ini pekerjaanekrrjaan sambilan untuk menunggu studi S2, keluarga tetap.mendukung meskipun gajinya tidak seberapa,"pungkasnya.

Penulis: Sulvi Sofiana
Editor: Cak Sur
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help