Berita Surabaya

VIDEO - Rutan Kelas I Kejati Jatim Baru Dioperasikan Januari 2018. Inilah Penghuni Pertamanya

Kejati Jatim baru saja mengoperasikan rutan kelas I Surabaya. Dan, inilah orang pertama yang menghuninya...

SURYA.co.id | SURABAYA - Winardi Kresna Yudha, Mantan Direktur Utama (Dirut) PT Abattoir Surya Jaya yang terlibat penjualan aset Pemkot Surabaya seluas 7 hektar, menjadi orang pertama yang menghuni Rumah Tahanan Kelas I Surabaya di Kejati Jatim, Kamis (11/1/2018).

Winardi ditahan penyidik Pidana Khusus (Pidsus) Kejati Jatim di Blok A. Di tahanan, Winardi sendirian karena Rutan yang ada di samping utara gedung utama kejati itu memang mulai dioperasikan sejak awal Januari 2018.

"Dia (Winardi) orang pertama yang ditahan disini (Rutan Kejati)," ujar Aspidsus Kejati Jatim, Didik Farkhan Alisyahdi SH, Kamis (11/1).

Mantan Kepala Kejaksaan Negeri (Kajari) Surabaya, menjelaskan Winardi telah menjual aset tanah konpensasi Pemkot Surabaya seluas 70.000 m2.

Kasus korupsi yang membelit Winardi bermula pada 1998 saat PT Abattoir menggunakan lahan milik Pemkot Surabaya di Jalan Banjar Sugihan, Tandes seluas 13.195 m2 untuk Rumah Potong Hewan (RPH).

Sebagai konpensasi penggunaan lahan, Pemkot mendapat tanah seluas 7 ha di Desa Wonoayu, Kabupaten Sidoarjo. Tanah itu milik PT Abattoir yang didapat hasil tukar menukar tanah (ruilsag) dengan PT Rungkut Central Abadi (RCA).

Winardi Kresna Yudha saat dibawa ke Rutan Kelas 1 Kejati Jatim yang baru dioperasikan awal Januari 2018, Kamis (11/1/2018).
Winardi Kresna Yudha saat dibawa ke Rutan Kelas 1 Kejati Jatim yang baru dioperasikan awal Januari 2018, Kamis (11/1/2018). (surabaya.tribunnews.com/ahmad zaimul haq)

Tersangka Winardi yang menjabat periode 2001 - 2010 seharusnya segera menyerahkan tanah itu ke Pemkot. Namun tanpa persetujuan Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS) pada tahun 2007, Winardi menjual tanah itu kepada PT RCA dengan harga Rp 1,5 miliar.

"Akibat perbuatan tersangka negara (Pemkot Surabaya) berdasarkan audit Kantor Jasa Penilai Publik (KJPP) Kampianus Roman, SE menderita kerugian dengan nilai wajar harga sekarang (tahun 2018) sebesar Rp 26,2 miliar," ujar Didik Farkhan.

Dalam kasus ini, penyidik Pidsus Kejati Jatim akan terus mengembangkan perkara korupsi aset Pemkot ini. Karena ada dugaan keterlibatan pihak lain dalam penggunaan dan pelepasan aset tanah itu.

"Kami masih mengembangkan arahnya kemana. Karena dalam proses jual beli tidak dilakukan sendiri. Tunggu saatnya nanti," ungkapnya.

Tersangka yang dikeluarkan dari gedung lantai V sekitar pukul 15.45 WIB menuju Rutan Kejati Jatim dijerat pasal 2 ayat (1), pasal 3 jo pasal 18 (1) UU Nomor 31 tahun 1999 sebagaimana diubah UU nomor 20 tahun 2001 jo pasal 55 ayat (1) ke-1 KUHP (bersama-sama).

Kabar yang berkembang, selain mengungkap aset negara yang lepas, Kejati Jatim kini getol membidik para mafia tanah yang menguasai atau menjual tanah negara. Beberapa pihak yang menguasai tanah Gelora Pancasila, tanah di Jl Urip Sumoharjo dan juga kolam renang Brantas bakal dibidik pasal korupsi.

Ketika hal itu ditanyakan kepada Aspidsus, Didik Farkhan tidak membantah. "Masih tahap penyelidikan, masih belum boleh diekspose. Nanti semua kasus itu setelah naik penyidikan semua wartawan pasti akan kami undang" tuturnya. 

Penulis: Anas Miftakhudin
Editor: Eben Haezer Panca
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

berita POPULER

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved