Surya/

Citizen Reporter

Membagi Porsi Akal, Hati, dan Waktu …

manusia mendapat modal waktu yang sama, 24 jam sehari.. yang membedakan cara memanfaatkan waktu dan kelak bakal diminta pertanggungjawabannnya..

Membagi Porsi Akal, Hati, dan Waktu …
eki tirtana zamzani/citizen reporter
Bazar sekolah adiwiyata SMP Islam Al Akbar Mojokerto 

Reportase Eki Tirtana Zamzani
Pengajar Matematika di The House of Trining Centre

 

 

PENDIRI Yayasan Al-Akbar Bangsal Kabupaten Mojokerto, Khoiroh Azizah meresmikan SMP Islam Al-akbar, Sabtu (6/1/2018). Hadir Dirjen Pendidikan Dasar dan Menengah Kementerian Pendidikan, Hamid Muhammad MSc dan Rektor Universitas Negeri Surabaya, Prof Dr Warsono MS.

Serangkaian acara digelar mulai dari peresmian SMP dengan penandatanganan prasasti oleh kedua tokoh. Diteruskan dengan mengunjungi bazar ekstrakurikuler SD Islam Al-Akbar.

Dalam sambutannya Prof Dr Warsono MS mengingatkan yang hadir tentang anugerah Allah berupa potensi yang luar biasa berupa akal, hati, dan, waktu.

Pertama, akal. Begitu banyak rasa ingin tahu anak-anak. Apa yang tidak mereka pahami pasti akan ditanyakan kepada orangtuanya. Keingintahuan yang tinggi itulah yang membuat mereka bisa berpikir sehingga mereka bisa mendapatkan pengetahuan baru dari hal-hal yang belum diketahui dengan cara belajar.

Kedua, hati. Manusia tak bisa berbohong pada dua hal, yakni Allah dan diri sendiri. Sumber kejujuran ada di hati nurani. Di antara anak-anak TK, SD, mahasiswa atau orang tu, siapa yang paling jujura? Jawabannya pasti anak-anak TK.

“Kita harus menjaganya melalui pendidikan. Moralitas harus dipelihara jangan sampai dicemari. Namun dalam lingkungan, kejujuran anak tercemar sedikit demi sedikit. Oleh karena itu kalau ingin menyekolahkan anak. Pilihlah sekolah yang menjunjung tinggi nilai-nilai kejujuran. Inilah yang akan menjadi modal bangsa kita ke depannya nanti,” ingatnya.

Ketiga, waktu. Semuanya diberi waktu yang sama yakni sehari 24 jam. Dalam Al Quran surat wal-ashri (1-3), dikatakan orang akan merugi. Karena waktu itu adalah kesempatan. Bagaimana kita bisa menggunakan dengan sebaik-baiknya. Orang Inggris bilang time is money. Karena dia tidak ingin kehilangan waktu sehingga waktu begitu dihargai. Pendidikan juga mengajarkan kita dalam mengisi waktu dengan baik untuk beribadah dan berproses produtif.

“Tiga hal inilah yang dianugerahkan Allah SWT kepada kita semua. Yang membedakannya adalah bagaimana kita menggunakannya. Kita bisa mengasah potensi yang ada pada diri anak-anak kita dengan lebih baik,” pungkasnya.

Sementara itu koordinator bazar ekstrakurikuler, Siti (wali kelas VI) menuturkan, stan bazaar memamerkan ekstrakurikuler robotika, cooking class, TPQ, lukis, silat, musik, batik, kelompok kerja Adiwiyata, dan tari.

Sekolah ini pernah menerima penghargaan Adiwiyata Mandiri Nasional dari Presiden Jokowi pada tahun 2015. Pokja Adiwiyata menampilkan hasil karya anak-anak. Ada topi yang terbuat dari limbah kertas koran, miniatur pesawat terbang dari sisa botol air minum. Dan berbagai jenis tanaman bunga hias.

Pada stan ekstra robotika menampilkan robot cerdas pengukur berat badan dan tinggi seseorang. Cara pengoperasiannya cukup mudah, pengunjung berdiri dan menginjak lantai bawah robot. Lalu sangkar burung mainan yang ada sensornya ditindihkan ke kepala pengunjung. Beberapa menit kemudian di layar akan menampilkan tinggi dan berat badan pengunjung. Lalu robot akan menyebutkannya.

Pada ekstra batik menampilkan proses pencantingan kain batik. Anak-anak menggambar pola dengan pensil di selembar kain katun berwarna putih. Setelah itu pola yang telah dibuat ditutupi malam dengan cara mencantingnya. Proses pembuatan batik tidak dilanjutkan sampai selesai, sehingga dipamerkan kain batik yang sudah jadi dari hasil karya anak-anak.

Editor: Tri Hatma Ningsih
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help