Citizen Reporter

Ini yang Terjadi Ketika Dosen UTM dan UM Bertemu dan Bertamu

guru bahasa Indonesia sebaiknya juga menguasa bahasa lokal daerah demi bisa menyampaikan mataeri ajar kepada mahasiswanya ...

Ini yang Terjadi Ketika Dosen UTM dan UM Bertemu dan Bertamu
cicik tri jayanti/citizen reporter
Pertemuan dosen UTM dan UM 

Reportase Cicik Tri Jayanti
Pengajar Program Studi Pendidikan Bahasa Indonesia Universitas Trunojoyo Madura

 

 

HANYA mereka yang belajar yang akan mekar. Pepatah lama itu, tak pernah lekang oleh waktu. Itu pula yang melatari kami para pengajar Program Studi Pendidikan Bahasa Indonesia Universitas Trunojoyo Madura (UTM), Kamis (4/1/2018) mengunjungi Jurusan Sastra Indonesia Universitas Negeri Malang (UM).

Setelah beberapa hari sebelumnya, kami melakukan kunjungan pula ke Prodi Pendidikan bahasa Indonesia Universitas Negeri Surabaya (Unesa). Kunjungan ke UM ini dalam rangka perbaikan kurikulum untuk pengajaran pada semester berikutnya.

Sebagai program studi yang relatif baru bertumbuh, kegiatan ini diharapkan dapat membuka pintu kerjasama di masa mendatang. Dengan digawangi Wakil Dekan Fakultas Ilmu Pendidikan UTM, Wahid Khoirul Ikhwan beserta enam dosen prodi Pendidikan Bahasa Indonesia, kami diterima di ruang dosen Jurusan Sastra Indonesia UM, di gedung E7 lantai satu.

Penuh kehangatan, kepala jurusan Sasindo UM, Prof Dr Heri Suwignyo MPd dan Sekretaris Jurusan Dr Martutik MPd, delapan jajaran dosen menyambut dan bertukar pikiran terkait kurikulum terkini bidang Bahasa Indonesia.

Sejumlah rekomendasi didapat, di antaranya komitmen UTM melalui Prodi Pendidikan Bahasa Indonesia untuk menjadi pintu pelaksanaan penelitian berbasis kemaduraan melalui kehadiran matakuliah pilihan Bahasa Madura.

Guru Bahasa Indonesia di Madura harus memiliki kecakapan berbahasa Madura sebagai upaya pendekatan ke dalam kebudayaan Madura. Alasannya karena sekali lagi, belajar bahasa adalah belajar tentang kebudayaan.

Acara semi-fomal yang berlangsung sejak pukul 09.30 hingga pukul 11.30 WIB itu berjalan dengan hangat yang sesekali diselingi dengan celetukan jenaka. Mengajar calon guru bahasa Indonesia masa depan, baik di Malang maupun di Madura tentu memiliki tantangan masing-masing.

Dengan cepatnya perubahan kebijakan maupun kurikulum yang ditetapkan pemerintah tentu menambah beban tantangan itu. Hanya saja kami semua percaya bahwa itu merupakan bagian dari tantangan kedinamisan kehidupan manusia kelak yang sebagian kecilnya dapat diramalkan sejak kini. Mari bersama membekali calon guru masa depan dengan bekal terbaik melalui sajian kurikulum yang terus diperbaiki.

Editor: Tri Hatma Ningsih
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help