Surya/

Laporan Khusus

Upaya Petani Kopi Banyuwangi Bebas dari Tengkulak: Petani Sulit Putus Mata Rantai karena Uang

‘Bercerai’ dari tengkulak memang bakal terasa pedih bagi petani, karena persoalannya adalah uang.

Upaya Petani Kopi Banyuwangi Bebas dari Tengkulak: Petani Sulit Putus Mata Rantai karena Uang
surya/haorrahman
Petani di ladang kopi Lego. 

SURYA.co.id | BANYUWANGI - ‘Bercerai’ dari tengkulak memang bakal terasa pedih bagi petani, karena persoalannya adalah uang.

Menurut Ketua Kelompok Tani Rejo Gombengsari Taufik, petani sulit lepas karena tengkulak selalu memenuhi kebutuhannya ibarat mata rantai yang tak terputus.

Sebelum masa panen, tengkulak sudah memberi panjar uang cash pada petani. Dan imbal
baliknya, petani harus menjual panennya ke tengkulak itu.

Bahkan banyak tengkulak yang memberi uang untuk petani, untuk pupuk dan kebutuhan lainnya.

"Bahkan tengkulak bisa memberi uang untuk membeli panen musim berikutnya," kata pemilik 3,5 hektare lahan kopi tersebut.

Mata rantai kian rumit ketika petani juga berhadapan dengan makelar tengkulak.

“Kopi petani diambil makelar lalu dibawa ke tengkulak. Lalu tengkulak membawanya ke pengepul, bayangkan jatuh berapa harganya,” kata Taufik.

Penulis: Haorrahman
Editor: Parmin
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help