Surya/

Laporan Khusus

Upaya Petani Kopi Banyuwangi Bebas dari Tengkulak: Petani Paham Olah Kopi, Untung Berlipat

Petani pun belajar cara sortir, menjemur, hingga proses menjadi bubuk, agar keuntungan berlipat.

Upaya Petani Kopi Banyuwangi Bebas dari Tengkulak: Petani Paham Olah Kopi, Untung Berlipat
surya/haorrahman
Kopi Lego telah menjadi salah satu ikon Banyuwangi. 

SURYA.co.id | BANYUWANGI -  Kalau mau enak, kata Ketua Kelompok Tani Rejo Gombengsari, Taufik, harus kuat ‘dilakoni’ seperti adagium di atas.

Petani pun belajar cara sortir, menjemur, hingga proses menjadi bubuk, agar keuntungan berlipat.

Taufik mencontohkan, Kopi Gombengsari menghasilkan robusta berkualitas. Dari kopi rakyat Gombengsari, bisa dihasilkan Robusta Togosari, Lanang, Excelsa, Koneha, dan Luwak.

Harganya bikin ngiler kalau dipikir sambil ngopi. Bubuk Robusta Original dijual seharga Rp140.000 per KG, Lanang Rp 200.000 per KG, Koneha Rp 250.000 per KG, Excelsa Rp 270.000 per KG, dan luwak Rp 1 juta per KG! Tak hanya dalam bentuk bubuk, kopi bentuk green bean (belum tumbuk), harganya sangat jauh dari pada saat dijual ke tengkulak.

Di perkebunan kopi rakyat Lerek-Gombengsari, setiap petani memiliki 1-5 hektare, dengan produksi 1,5 ton per hektare. Misalnya menjual dalam bentuk robusta original, per hektare meraup omzet Rp 150 juta setiap panen.

Kalau menjual ke tengkulak, hanya Rp 27 juta di masa panen.

Langkah mandiri itu sudah berjalan, karena saat ini pasar untuk kopi Banyuwangi sudah terbentuk.

Taufik mengaku, produksi kopi Lego miliknya telah terjual ke berbagai daerah seperti Jakarta, Bogor, Bandung, Surabaya, dan lainnya yang mayoritas pembeli adalah pemilik kafe dan komunitas kopi.

“Kami sampai kewalahan. Konsumen atau buyer diuntungkan, karena
harganya lebih murah langsung dari petani ketimbang tengkulak,” kata Taufik.

Menurut Taufik, buyer membeli kopi kering dari Dampit Rp 50.000 per KG. Sedangkan dari petani, kopi kering hanya Rp 40.000 per KG. Dan pelahan mata rantai tengkulak mulai terurai karena petani siap memproduksi kopi murni organik.

"Kalau dihitung, kebutuhan pupuk dari ternak sudah mencukupi," ujar Taufik.

Perlawanan senyap para petani Banyuwangi ini memang perlu diperkuat ke depannya. Tetapi dengan edukasi, terbentuknya pasar, serta konsolidasi kelompok petani melalui sebuah koperasi untuk petani kopi, nantinya tengkulak yang mengikuti harga petani.

Jadi petani tak lagi gagal paham cara menikmati manisnya kopi.

Penulis: Haorrahman
Editor: Parmin
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help