Surya/

Laporan Khusus

Upaya Petani Kopi Banyuwangi Bebas dari Tengkulak: Pemkab Fasilitasi Petani Bertemu Buyer

Untuk mengembangkan usaha kopi rakyat ini, perlu edukasi pada petani maupun pelaku usaha perkopian.

Upaya Petani Kopi Banyuwangi Bebas dari Tengkulak: Pemkab Fasilitasi Petani Bertemu Buyer
surya/haorrahman
Bupati Banyuwangi Abdullah Azwar Anas. 

SURYA.co.id | BANYUWANGI - Pemberdayaan para petani kopi rakyat juga dilakukan Pemkab Banyuwangi, untuk memutus mata rantai tengkulak.

Pasar lelang yang mempertemukan langsung petani dan buyer sudah digelar, agar pemasaran produk-produk asal Banyuwangi, bisa terjadi.

Dalam lelang ini para pelaku mulai petani, peternak, pekebun, dan pelaku Industri Kecil
Menengah (IKM), bertemu langsung dengan 10 pembeli besar dari Surabaya.

Bupati Banyuwangi Abdullah Azwar Anas mengatakan, pihaknya ingin petani mendapatkan
keuntungan maksimal dengan bertemu pembeli tanpa perantara.

"Ini mengefisienkan mata rantai perdagangan yang nantinya menekan inflasi. Dan di sisi lain menggembirakan petani dan IKM karena harga yang didapatkan lebih baik. Kami akan gelar Pasar Lelang ini empat kali setahun mulai 2018,” kata Anas.

Ditambahkan Ketut Kencana, Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan Banyuwangi, pasar lelang tersebut adalah salah satu upaya pemkab untuk memutus mata rantai tengkulak.

“Selain itu, meningkatkan kualitas petani kopi rakyat. Dan Banyuwangi juga beberapa kali menggelar pelatihan pemrosesan kopi,” terang Ketut.

Dalam pemrosesan kopi, pemkab mendatangkan pakar kopi untuk memberi edukasi bagaimana menghasilkan produk kopi kualitas terbaik. Pesertanya merupakan petani dan pelaku usaha kopi baik industri kecil menengah (IKM) dan pemilik kafe.

“Harapannya, para pekebun dan IKM tahu cara mengolah kopi yang baik sehingga bisa
memproduksi kopi yang benar-benar berkualitas. Apalagi kopi Banyuwangi dikenal nasional,” kata Ketut.

Banyuwangi jadi penghasil kopi dengan jenis robusta, yakni kopi yang ditanam dengan
ketinggian di bawah 1000 mdpl. Sebagian merupakan perkebunan kopi rakyat yang pengolahannya masih tradisional. Untuk mengembangkan usaha kopi rakyat ini, perlu edukasi pada petani maupun pelaku usaha perkopian. 

Penulis: Haorrahman
Editor: Parmin
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help