Laporan Khusus

Upaya Petani Kopi Banyuwangi Bebas dari Tengkulak: 36 Petani kini Jual Kopi ke Resto dan Kafe

Kopi merupakan salah satu komoditas Banyuwangi dengan rata-rata produksi hampir 9.000 ton per tahun.

Upaya Petani Kopi Banyuwangi Bebas dari Tengkulak: 36 Petani kini Jual Kopi ke Resto dan Kafe
surya/haorrahman
Aktivitas petani kopi rakyat Banyuwangi menggelar kopi di halaman. 

SURYA.co.id | BANYUWANGI - Kopi merupakan salah satu komoditas Banyuwangi dengan rata-rata produksi hampir 9.000 ton per tahun, dengan jenis 90 persen robusta dan 10 persen arabika.

Hanya, sekian lama kopi rakyat tetap pahit di lidah petani kopi, dan manisnya masih harus diperjuangkan karena kuatnya cengkeraman para tengkulak.

Ayo Ngopi Ben Gak Salah Paham, Ngopi Ben Gak Gendeng, Kalem Bro Dipikir Karo Ngopi,
Kuat Dilakoni nek Ra Kuat Ditinggal Ngopi, dan banyak lagi adagium yang terinspirasi
nikmatnya kopi.

Memang, kopi menjadi komoditas favorit yang menjanjikan namun bukan berarti petani kopi Banyuwangi mendapat untung berlipat.

Soal pahit manisnya kopi rakyat, bukan sekadar kiasan. Pangkalnya adalah minimnya
pengetahuan atau edukasi pengolahan kopi dan ulah tengkulak yang memainkan harga,
sehingga keuntungan petani kopi stagnan. Intinya, petani masih gagal paham.

Padahal edukasi mengolah kopi bisa dipelajari plus kemauan melawan tengkulak. Inisiasi tidak menjual kopi rakyat ke tengkulak, telah berjalan di Banyuwangi agar para petani paham tata kelola kopi dan cara menjual, dan jadi penentu harga sendiri.

"Petani kopi rakyat selama ini hanya menanam. Tetapi tidak tahu nikmatnya kopi. Mulai rasa hingga potensi kopi," kata Hariono, Ketua Komunitas Kopi Lerek-Gombengsari (Lego),
Banyuwangi, Rabu (3/1/2018).

Sejak 2016, komunitas pengusaha dan petani Kopi Lego sudah tidak lagi menjual kopi ke
tengkulak.

Waktunya masih singkat untuk benar-benar mentas dari tengkulak, tetapi kini sudah sekitar 36 petani kopi rakyat yang tidak menjual ke tengkulak.

"Kami menjual langsung ke buyer, seperti resto, kafe-kafe, pengusaha kopi olahan," kata pria kelahiran Gombengsari tersebut.

Halaman
12
Penulis: Haorrahman
Editor: Parmin
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help