Laporan Khusus

Dulu Sepetak Tanah Dihargai ‘Udeng’, kini Perkebunan Kopi di Banyuwangi Jadi Paket Wisata

Tahu Udeng? Itu adalah ikat kepala yang dililit dari kain yang menggambarkan status sosial di Banyuwangi di masa lalu.

Dulu Sepetak Tanah Dihargai ‘Udeng’, kini Perkebunan Kopi di Banyuwangi Jadi Paket Wisata
surya/haorrahman
Dua wisatawan mancanegara menikmati paket wisata petik kopi di sebuah perkebunan kopi di Banyuwangi. 

SURYA.co.id | BANYUWANGI - Tahu Udeng? Itu adalah ikat kepala yang dililit dari kain yang menggambarkan status sosial di Banyuwangi di masa lalu.

Percaya atau tidak, harga tanah di Lerek, Kelurahan Gombengsari yang kini dikenal sebagai Kampung Kopi Banyuwangi, ternyata pernah ditukar dengan seikat udeng!

Kalau sekarang setiap warga Lerek memiliki kebun kopi, dulu harga tanah mereka sangat tidak berharga. Begitu murahnya, ada yang berkisah, satu petak tanah 20x10 meter hanya ditukar satu udeng.

"Dulu tanah di sini tidak laku. Siapa yang mau beli. Satu petak tanah ditukar satu
udeng,” kisah Suparno (61), warga asli Lerek.

Memang di masa lalu, tidak semua masyarakat punya udeng. “Bahkan ada sepetak tanah
ditukar satu seruling. Dulu, tanah di sini tak ada harganya,” kata Suparno.

Baru sejak 1970-an, masyarakat pelahan menaman kopi yang bibitnya diambil dari perkebunan Kaliklatak.

Namun masyarakat menanam kopi sembunyi-sembunyi karena dilarang ditanam di
luar perkebunan.

”Kalau menanam kopi disembunyikan di tumpukan rumput, karena dilarang.
Saya termasuk yang menanam,” kata Suparno.

Kini total lahan kebun rakyat Gombengsari mencapai 1700 hektare. Yang murni ditanami kopi 850 hektare, sementara sisanya ditanami kopi yang ditumpangsarikan kelapa dan pepohonan yang menjadi pakan kambing ettawa.

Hamparan kebun kopi itu, oleh warga setempat dioptimalkan sebagai tour wisata. Bahkan
banyak warga yang menjadikan rumahnya homestay untuk wisatawan.

Halaman
12
Penulis: Haorrahman
Editor: Parmin
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help