Citizen Reporter

Berburu Rawon … Eh, Soto Daging Khas Lombok!

jangan salah menerka, soto khas Lombok memang berwarna hitam mirip rawon Jawa Timur, dengan irisan daging sapi dan potongan lontong..

Berburu Rawon … Eh, Soto Daging Khas Lombok!
sandi iswahyudi/citizen reporter
Seporsi soto khas Lombok 

Reportase Sandi Iswahyudi
Blogger/Digital Marketing/Moslem Traveler

 

KAYAK rawon ya, warnanya hitam. Tidak, ini soto khas Lombok kuahnya berwarna hitam dengan daging sapi. Kalau soto yang pakai daging ayam, kuahnya berwarna kuning.

Ooo… begitu, sambil saya mengangguk-angguk mendengarkan penjelasan Iko, pemuda asli Lombok. Saya mengamati dengan saksama perbedaan mencolok, antara soto ayam super Lamongan yang pernah saya makan di Kota Batu dengan soto sapi khas lombok yang sudah di depan mata.

Sebagaimana reportase saya yang terbit di Harian Surya (Kamis, 25/3/2015). Jika soto ayam super Lamongan Pak Djari ini, memiliki kuah khas dengan warna kuning mencolok. Kuahnya kuat dan rasanya enak, tidak pedas, menggunakan nasi, dengan irisan daging ayam. Kalau saya ingin rasa pedas, tinggal menambahkan sambal sesuai selera.

Sedangkan soto khas Lombok ini terasa berbeda jauh. Hal yang saya ingat dari Iko, saat kami berburu soto di kawasan Lombok Timur. Dia mengatakan, jika di Malang makan soto pakai nasi biasa, tapi jika di sini bisa-bisa diketawain orang Lombok. Sebab soto di Lombok menggunakan lontong. Perbedaan yang mencolok lainnya, sotonya berwarna gelap, diimbuh kacang tanah sangrai, serbuk koya  berwarna gelap yang disangrai, kecambah, serta rasa kuahnya segar dan pedas.

Perpaduan yang nikmat antara kuah yang segar, pedas, ditambah dengan kacang, koya, dan isian lainnya, menghasilkan sensasi yang tak biasa. Maklum, sejauh ini lidah saya masih merasakan soto dengan kuah kuning. Sayangnya soto ini tak bisa ditemukan di sembarang tempat.

Rabu (20/12/2017) setelah berburu sunrise di Pantai Labuan Haji, Lombok Timur, kami langsung mencari soto di daerah sekitar pantai, ternyata tidak menemukannya. Kemudian kami melaju ke pasar, dan menemukan soto yang kami cari, dengan harga normal satu porsinya Rp 10.000.

“Soto Lombok ini, salah satu ciri khasnya, dibumbu warna hitam, itu salah satu penguat soto sapi ini. Jarang juga yang jual. Kalau yang jual pasti dipasar, terus di desa-desa. Kalau di kota jarang,” terang Iko sambil menikmati tiap suapan kuahnya yang segar.

Sayang sekali ya kulinernya tidak bisa ditemui di banyak tempat. Hikmahnya memang, untuk mendapatkan sesuatu yang spesial butuh perjuangan. Mengutip dari laman Jawapos.com, hampir semua daerah di Indonesia punya menu soto. Mulai dari ujung, yakni Aceh, Pulau Jawa, Kalimantan, hingga Sulawesi memiliki kuliner ini. Nyam... berarti harus mencicipi soto dari daerah lainnya ini. Maasyaa Allah, inilah Indonesia dengan segala kelebihannya.

Editor: Tri Hatma Ningsih
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help