Citizen Reporter

Beginilah Jika Dosen Indonesia Muhasabah Politeknik ke Hochschule Austria

jangan bangga memiliki gelar berderet di belakang nama jika tak diimbangi dengan kemampuan dan sertifikasi profesi ...

Beginilah Jika Dosen Indonesia Muhasabah Politeknik ke Hochschule Austria
dokumentasi Aditya Kurniawan
Dosen penerima beasiswa retooling Kemristekdikti saat berada di hochschule Austria 

Reportase Faqih Fadillah
Departement Logistic & Distributor PT Bentoel Prima

PROGRAM beasiswa Retooling merupakan usaha Kemristekdikti merevitalisasi pendidikan tinggi vokasi. Aditya Kurniawan, salah satu dosen di antara 15 orang yang dapat menikmati beasiswa tersebut di Festo GesellschaftmbH, linzer straße 227 Wien.

Dosen di Politeknik Kota Malang ini diberi kesempatan menikmati pelatihan kompetensi bersertifikasi dan magang selama delapan minggu. Tahapan yang harus ditempuh mulai bulan Juli hingga Desember 2017, dengan rincian pendaftaran peserta, seleksi pendaftaran, pengumuman penerima beasiswa, persiapan kontrak, penandatangan kontrak, lokakarya prakeberangkatan, periode pelaksanaan kegiatan, monev pelaksanaan, laporan akhir program Retooling.

“Saya merasa bersyukur bisa terpilih dari sekian orang yang mendaftar, tentu program ini sangat penting untuk dosen vokasi yang mengedepankan skill praktis, harapannya ingin membawa apa yang didapat dari Austria ke institusi tempat kami mengajar,” ungkap Aditya Kurniawan.

“Secara garis besar teknologi kita sudah sesuai sekitar 95 persen dengan Austria, akan tetapi terdapat perbedaan cara pandang dan perlakuan yang membedakan output pendidikan kita dengan mereka. Bahwa mindset Austria, Jerman dan Swiss menganggap banyaknya masyarakat bergelar doktor bukan indikator kemajuan pendidikan vokasi, melainkan banyaknya masyarakat yang memiliki real skill sertifikasi yang mendongkrak kemajuan pendidikan vokasi dan industri,” ungkap Aditya Kurniawan yang pernah menempuh pendidikan pascasarjana di Newcastle Inggris.

Aditya juga menggambarkan bahwa pendidikan hochschule (perguruan tinggi) di Austria menggunakan practical skill selama 5 tahun, dengan peralatan one man one tool. Selain itu, seorang pengajar vokasi juga tak dibebani publikasi terindex scopus, melainkan diharuskan memperdalam skill selama mengajar, dituntut memiliki banyak sertifikasi profesi dan skill bukan ijazah akademik, dan mengembangkan modul praktikum mereka sendiri.

Pengajar di hochschule Austria dituntut mengembangkan media ajar sebagai bahan penunjang pembelajaran. Hampir sama dengan Austria, Politeknik Kota Malang juga mengembangkan media ajar untuk praktikum akan tetapi pengembangannya tidak sampai ke level industry sebagaimana di Austria.

Saran untuk Kemristekdikti pascabeasiswa yang diselesaikan Desember 2017 adalah sebaiknya dosen vokasi ditargetkan fokus pada pengembangan modul ajar media praktik, produk prototype dan sertifikasi keahlian internasional. Sementara program penelitian yang mengharuskan publikasi internasional agar dimanfaatkan oleh dosen universitas yang terfokus pada bidang akademik teoritis murni.

Ada beberapa poin yang dianggap krusial pascaprogram ini untuk Politeknik yaitu, (1)technological transfer; (2) retooling skill dosen vokasi dan (3) benchmarking dengan institusi pendidikan dan industri luar negeri. Melalui saran hasil beasiswa Retooling, di tahun 2018 ini selayaknya akan terjadi langkah-langkah strategis untuk merevitalisasi politeknik, dimana secara prinsip output peserta didik Politeknik berbeda dengan universitas.

Editor: Tri Hatma Ningsih
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help