Surya/

Berita Ekonomi Bisnis

Inflasi di Jatim 2017 Lebih Tinggi Dibanding Nasional, ternyata 3 Daerah ini Penyumbang Tertinggi

BPS Jatim menyatakan inflasi di Jatim selama 2017 mencapai 4,04 persen. Angka itu lebih tinggi dibanding angka inflasi nasional 3,61 persen.

Inflasi di Jatim 2017 Lebih Tinggi Dibanding Nasional, ternyata 3 Daerah ini Penyumbang Tertinggi
surya/sri handi lestari
Kepala BPS Jatim, Teguh Pramono menyampaikan data inflasi di Jatim di bulan Desember dan tahun 2017. 

SURYA.co.id | SURABAYA - Badan Pusat Statistik (BPS) Jawa Timur (Jatim) menyatakan inflasi di Jatim selama tahun 2017 mencapai 4,04 persen. Angka itu lebih tinggi dibanding angka inflasi nasional yang hanya 3,61 persen.

Kepala BPS Jatim, Teguh Pramono mengatakan tingginya inflasi di Jatim bukan berarti ada kegagalan dari Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID).

"Lebih tinggi dari nasional bukan berarti gagal karena angka nasional itu disusun dari 33 provinsi dari 90 kabupaten/kota. Jadi ada tempat-tempat yang mungkin berhasil mengendalikan inflasi ada yang kurang berhasil," kata Teguh dalam paparan Berita Resmi Statistik, Selasa (2/1/2018) di Surabaya.

Sebenarnya inflasi di Jatim sudah terjadi sejak awal tahun 2017. Di bulan Januari, inflasi Jatim tercatat paling tinggi, mencapai 0,90 persen. Sementara di bulan Desember ini masih di kisaran 0,71 persen.

Sama dengan inflasi di bulan November. Secara year on year (yoy) inflasi di 2017 ini lebih tinggi dibanding 2016, yang hanya mencapai 2,74 persen.

Peningkatan inflasi tertinggi sejak awal tahun itu didorong oleh biaya listrik, yang terjadi saat pemerintah mencabut subsidi listrik pada Januari 2017 untuk pelanggan kategori 900 VA yang dianggap mampu, dan pencabutan dilakukan secara bertahap pada Juni 2017 dengan total perubahan harga listrik hingga 33 persen.

"Selain listrik, inflasi sepanjang 2017 ini terjadi juga karena kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) non subsidi 6 persen di awal tahun. Termasuk kenaikan biaya perpanjangan STNK dengan perubahan harga mencapai 106 persen," tambah Teguh.

Sedangkan untuk komoditi atau barang lain yang cukup banyak menyumbang inflasi Jatim sepanjang 2017 yakni kenaikan harga beras 6,7 persen, dan emas perhiasan 12 persen.

Namun, ada pula lima komoditi lain yang menyumbang deflasi terbesar di Jatim. Yaitu bawang merah yang turun hingga -39 persen, bawang putih -38 persen, cabai rawit -59 persen, gula pasir -12 persen, dan angkutan udara 0,07 persen.

Teguh mengatakan inflasi tinggi sepanjang tahun lalu terjadi pada bulan-bulan tertentu yakni Januari, lalu Juni dan Juli saat momen Lebaran serta akhir tahun yang sudah terjadi sejak November dan Desember 2017 yakni dengan inflasi 0,71 persen.

"Kelompok penyumbang terbesar di akhir tahun ini kebanyakan adalah komoditi bahan makanan. Dan menurut pengamatan lokasi dari Jember sampai Madiun semua menunjukan inflasi," katanya.

Sepanjang 2017 itu, penyumbang inflasi terbesar terjadi di Madiun dengan inflasi 4,78 persen, disusul Surabaya 4,37 persen, dan Malang 3,75 persen.

"Khusus akhir tahun ini kelompok makanan jadi penyumbang terbesar lalu transportasi. Di samping itu adanya cuaca buruk, bencana alam seperti banjir dan longsor di Pacitan juga cukup membuat harga-harga makanan naik karena terhambat distribusi dan pusat produksi lainnya seperti tembakau," jelas Teguh.

Angka inflasi Jatim 4,04 persen tersebut masih tergolong normal dan masih bagus yakni berada di kisaran +-4 persen. Dengan inflasi yang masih normal itu diharapkan tidak terlalu memberatkan masyarakat dan juga menggairahkan bagi pelaku usaha.

"Kalau terlalu tinggi masyarakat akan sengsara tapi kalau terlalu rendah juga membuat pelaku usaha tidak bergairah," tandas Teguh.

Penulis: Sri Handi Lestari
Editor: Parmin
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help