Berita Surabaya

Guru Besar Unair Teliti Madu Dapat Membentengi Pengidap HIV/AIDS dari Infeksi Oportunistik

Hasilnya, sengatan lebah mampu menutupi sel T atau limfosit sehingga virus HIV tidak dapat mengenali target.

Guru Besar Unair Teliti Madu Dapat Membentengi Pengidap HIV/AIDS dari Infeksi Oportunistik
surya/sulvi sofiana
Guru Besar Fakultas Kedokteran (FK) Universitas Airlangga (Unair) Prof Dr dr R Heru Prasetyo MS SpPark saat orasi ilmiah dalam pengukuhan guru besar 

SURYA.co.id | SURABAYA - Orang dengan HIV/AIDS (ODHA) rentan mengalami infeksi oportunistik.

Yakni infeksi yang disebabkan organisme yang dapat menyerang orang dengan sistem kekebalan tubuh yang buruk, salah satu dampaknya yaitu terjadinya diare.

Guru Besar Fakultas Kedokteran (FK) Universitas Airlangga (Unair) Prof Dr dr R Heru Prasetyo MS SpPark mengungkapkan dalam penelitiannya infeksi ini bisa diatasi dengan madu.

Menurutnya, peneliti di School of Medicine-Washington University telah meneliti racun sengatan lebah.

Hasilnya, sengatan lebah mampu menutupi sel T atau limfosit sehingga virus HIV tidak dapat mengenali target.

Ia menambahkan, madu juga dapat bertindak sebagai stimulant stem cells usus untuk regenerasi bila terjadi kerusakan epitel mokusa usus halus.

Jadi, pemberian asupan madu tersebut diharap mampu diterapkan dalam regenerasi penderita HIV/AIDS yang mengalami kerusakan epitel mokusa akibat infeksi oportunistik cryptosporidium.

”Perbaikan epitel mokusa usus ini akan meningkatkan kembali imunitas mokusa usus sehingga dapat membentengi diri dari infeksi oportunistik parasit cryptosporidium yang menyebabkan diare,” jelas guru besar FK Ke-109 ini.

Parasit itu muncul akibat kontak feses dan lebih berisiko pada kaum homosexual.

”Yang perlu diperhatikan pula, Cryptosporidiosis usus pada penderita HIV-AIDS dapat mengalami penyebaran ke paru-paru dan kadang disalahsangkakan sebagai gejala tuberkulosis,” tutupnya.

Rektor Unair, Prof Moh Nasih mengapresiasi hasil penelitian guru besar Unair tersebut.

Menurutnya tugas dan pekerjaan berat para guru besar harusnya terus diimbangi dengan kualitas penelitian yang bermanfaat.

”Konon, banyak penyakit yang obatnya belum ditemukan. Tentu, atas seizin Allah, obat ini akan ditemukan para profesor yang dikukuhkan hari ini,” ucap Prof Nasih.

Hal ini menurutnya harus didorong dengan menggali lebih dalam penelitian terkait potensi madu sebagai salah satu obat untuk mengatasi penyakit HIV-AIDS yang hingga kini belum ditemukan obatnya.

”Upaya alternatif harus muncul dari forum-forum akademik dari para guru besar di Unair. Ada hal penting yang dititipkan ke pundak para guru besar. Bukan hanya pengajaran, tapi juga riset serta pengmas,” tuturnya.

Penulis: Sulvi Sofiana
Editor: Musahadah
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved