Citizen Reporter

Menyelami Gelombang Keunikan Sade

selama 4 hari di Pulau Lombok, terlalu banyak keindahan dan kearifan lokal yang menyadarkan saya, betapa kayanya Indonesia ...

Menyelami Gelombang Keunikan Sade
eka widiya sari/citizen reporter
Secuil keunikan Sade 

 

Reportase Eka Widiya Sari
Siswa Kelas XII MAN Kota Batu/Pemenang Lomba Penulisan

KEASRIAN sebuah desa, kerukunan penduduknya, dan bunyi-bunyian khas desa, menjadi catatan indah yang bisa saya kenang tentang Desa Sade, di Pujut, Lombok Tengah. Kunjungan pertama saya belum lama ini di desa yang masih menjaga tradisi adat Suku Sasak, suku asli Lombok ini terasa istimewa.

Memiliki keunikan yang sangat menonjol, salah satunya adalah rumah adat yang terkesan sangat tradisional. Atap rumah dari ijuk, kuda-kuda atapnya memakai bamboo tanpa penguat paku sama sekali, dinding dari anyaman bambu, dan lantai tanah.

Saya tidak mampu membayangkan, bagaimana hidup dalam  kondisi seperti ini. Sebagai, pemenang lomba penulisan yang memberi hadiah terindah mengunjungi Lombok selama beberapa empat hari, Senin-Kamis (18-21/12/2017), lengkap dengan kegiatan bertajuk perjalanan menemukan karya, benar-benar saya nikmati keunikan Lombok.

Selain, saya, ada satu teman pemenang lainnya, Della Romadhona, yang mengatakan betapa bersyukurnya menikmati kemenangan ini.

Sade ternyata tidak sekadar unik, namun juga keramahan alami warganya juga kearifkan lokal yang masih terjaga kuat. Saya belajar bagaimana Sade yang menjadi tempat hidup warga dari satu keturunan karena masyarakatnya melakukan pernikahan antar saudara.

Selain, kekuatan tradisi yang tercermin dari wujud setiap bangunan yang banyak betebaran di Sade. Misalnya masjid desa dan cara warga merawat dan membersihkan lantai tanah dengan kotoran kerbau.

Mereka memercayai bila kotoran kerbau dapat mengusir serangga sekaligus penangkal magis yang ditujukan kepada penghuni rumah.

Tradisi lain yang terjaga adalah atraksi budaya Lombok berupa alat music tradisional yang dikenal sebagai gendang beleq.

Keunikan lain Sade bisa dilihat dari pakaian yang  mereka kenakan. Baik perempuan ataupun laki-laki di Sade terkesan seragam karena sarung yang mereka kenakan. Entah bagaimana sejarahnya, mereka sepakat merawat tradisi adat lewat busana yang melekat di tubuh mereka.

Bahkan, kaum muda suku Sasak, terlihat terampil berada berlama-lama di balik alat tenun menenun kain khas Sasal. Sungguh bukan pekerjaan ringan, lebih-lebih untuk anak muda Sasak, tangan-tangan mereka terlihat begitu lincah menari memainkan dan memilah satu benang ke benang yang lainnya dalam beragam warna dan menjadikan pintalan yang sempurna.

Menikmati semua ini di Sade mengingatkan saya bahwa begitu banyak kekayaan dan tradisi budaya di Indonesia yang semakin luntur dan tergerus modernisasi dan globalisasi.

Saya bersyukur ketika masih banyak anak muda Sade yang bersandar pada tradisi luhur leluhur. Berpijak di akar terdalam nenek moyang dan menjadikan sebagai jati diri bangsa yang tak terganti. 

Editor: Tri Hatma Ningsih
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved