Liputan Khusus

'Sebenarnya Jumlahnya Tinggal Sedikit, Cuma Dibesar-besarkan untuk Mencari Legalitas'

Melihat ramainya isu LGBT, Munif memandang perlunya komunitas-komunitas dan para tokoh agama agar aktif.

'Sebenarnya Jumlahnya Tinggal Sedikit, Cuma Dibesar-besarkan untuk Mencari Legalitas'
pixabay
Ilustrasi gay 

SURYA.co.id | SURABAYA - Majelis Ulama Indonesia (MUI) Surabaya menolak keras perilaku lesbian, gay, biseksual, dan transgender (LGBT) di Surabaya. Menurut MUI, masyarakat muslim di Surabaya tak sepakat dengan orang-orang yang berperilaku seperti itu.

“Saya kira sebenarnya (jumlahnya) tinggal sedikit. Cuma dibesar-besarkan oleh oknum tertentu. Dia (oknum itu) untuk mencari legalitas,” kata Muhamad Munif, Sekretaris MUI Surabaya.

MUI Pusat pernah mengeluarkan fatwa Nomor 57 Tahun 2014 tentang Lesbian, Gay, Sodomi, dan Pencabulan.

Ketentuan hukum dalam fatwa tersebut menyatakan, antara lain, bahwa homoseksual, baik lesbian maupun gay, hukumnya haram dan merupakan bentuk kejahatan.

Hukum haram juga disampaikan kepada mereka yang melegalkan aktivitas seksual sesama jenis dan orientasi seksual yang menyimpang lainnya.

Menurut Munif, perilaku seksual seperti itu juga tabu di masyarakat umum.

MUI Surabaya, kata dia, sudah mendelegasikan fatwa tersebut ke tingkat kecamatan.

Pihaknya juga menekankan agar agar hal-hal seperti itu dihindari.

“Di Indonesia, termasuk di Surabaya, dengan masyarakat mayoritas muslim, tidak mungkin ada (menerima) seperti itu. Kita menolak keras,” tambahnya.

Ormas di MUI juga pernah menemukan adanya kongres internasional yang menyangkut para gay di salah satu hotel di Surabaya.

Halaman
123
Penulis: Aflahul Abidin
Editor: Titis Jati Permata
Sumber: Surya Cetak
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help